Kemendikbud Catat 20 Persen Siswa Kehilangan Kompetensi Belajar

Pendidikan —Jumat, 22 Jan 2021 15:16
    Bagikan:  
Kemendikbud Catat 20 Persen Siswa Kehilangan Kompetensi Belajar
Ilustrasi siswa belajar. (foto:theconservation)

POSKOTAJABAR, JAKARTA.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) telah melaksanakan survei kepada sejumlah sekolah. Tujuannya adalah untuk mengetahui potensi learning loss atau kehilangan kompetensi belajar siswa akibat pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama masa pandemi Covid-19.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Kabalitbangbuk) Kemendikbud, Totok Suprayitno mengatakan terdapat 20 persen sekolah secara nasional menyatakan sebagian dari siswa tidak memenuhi kompetensi.

“Terdapat 20 persen sekolah secara nasional menyatakan sebagian siswa tidak memenuhi kompetensi. 20 persen inilah yang diduga mengalami learning loss,” ujar Plt Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Kabalitbangbuk) Kemendikbud, Totok Suprayitno dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi X DPR RI secara daring, Kamis (21/1/2021) WIB.

 

BACA JUGA : Pengendara di Ciamis Dikagetkan dengan Suara Tembakan Senjata Api

 

Itu artinya, sebanyak 80 persen siswa masih mampu mencapai hasil belajar mereka di tengah pandemi. Namun bukan berarti angka 80 persen itu akan terus bertahan.

Apalagi, mengingat PJJ masih akan terus berlangsung selama pandemi. Jadi, pihaknya melihat bahwa potensi learning loss itu akan tetap ada, bahkan bisa saja bertambah.

“Tanda-tanda itu mulai nampak, walaupun survei ini baru hasil analisas guru berdasarkan hasil diagnostiknya,” kata Totok.

 

BACA JUGA : Mayat Perempuan yang Ditemukan di Areal Persawahan Diduga Korban Pembunuhan

 

Totok meminta guru untuk terus berinovasi. Seperti memberikan pembelajaran yang kreatif agar mampu diserap siswa.

“Adaptasi oleh guru harus lebih luas,” tegas dia.

Berbagai kemudahan yang diberikan, para guru bisa untuk memanfaatkan kurikulum darurat. Guru bisa menciptakan pembelajaran dengan konsep yang bebas dan menghadirkan pembelajaran yang esensial.

“Dengan variasi mengajar dari kurikulum darurat dengan konsep merdeka belajar tentu tidak menjadi kerangkeng. Tapi menjadi kerangka untuk pembelajaran yang bervariasi,” tutup Totok. (dwa)

Editor: Dikki
    Bagikan:  


Berita Terkait