Ayahnya Menganggur karena Covid-19, Bayi Hidrosefalus Berharap Uluran Tangan Pemerintah

Jawa Barat —Selasa, 26 Jan 2021 19:34
    Bagikan:  
Ayahnya  Menganggur karena  Covid-19, Bayi  Hidrosefalus Berharap Uluran Tangan Pemerintah
Fauzian Saepuloh saat digendong neneknya Ma Ende di Jalan Aki Padma, Kelurahan Babakan, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, Selasa (26/1/2020). (foto:aris)
POSKOTAJABAR, BANDUNG.

Saepuloh (36), pemain organ tunggal --yang sudah kehilangan job sejak awal pandemi Covid-19 berharap pemerintah hadir membantu nestapa yang tengah dialaminya. Anaknya sakit, butuh perawatan medis secepatnya. Fauzian, balita usia 26 hari ini, mengidap hidrosefalus (Penumpukan Cairan di Rongga Otak), dan tangan kirinya mengalami kelumpuhan.

Saepuloh menjelaskan,  Fauzian lahir di Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSKIA) Kota Bandung. Lahir secara prematur diusia kandungan 8 bulan 23 hari.

Gejala awalnya, Fauzian sesak nafas dan kejang-kejang sebelum akhirnya didiagnosa idap hidrosefalus. 

Lingkar kepala Fauzian awalnya 37 cm, dan kini sudah 47 cm. Berat badan Fauzian 3 kilogram.

"Iya, istri saya ngelahirin disana (RSKIA). Awalnya dikasih tahu sama dokter tangannya lumpuh. Kemudian dikasih tahu lagi kena hidrosefalus," katanya, Selasa (26/01/2021).

Kini, jelas Saepuloh, balita usia 26 hari itu, membutuhkan perawatan secepatnya. Saat konsultasi dengan dokter RSKIA, Fauzian, harus dirujuk ke RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung.

Sesampainya di RSHS, lanjut Saepuloh, dirujuk lagi ke RS Santosa. "Saya kemarin (25/01/2021) sudah daftar ke RS Santosa," akunya.

Meski sudah daftar, Saepuloh belum bisa memastikan kapan sang anak akan dirawat. Harapannya, anak bisa segera mendapatkan penanganan.

"Saya ke Santosa kemarin, katanya tanggal 4 Februari disuruh datang kesana lagi buat mastiin. Mudah-mudahan bisa segera ditangani," harapnya.

Soal biaya, Saepuloh mengaku bingung. Karena saat ini dia tidak punya uang sepeser pun.

"Jujur sampai saat ini saya belum pegang uang sepeser pun, Saya bingung, belum ada panggilan manggung," ungkapnya.

Saepuloh berkata demikian karena selama ini dia hanya berprofesi sebagai seorang pemain keyboard diacara pernikahan.

"Saya sudah lama nganggur, kerjaan saya kan pemain keyboard diacara pernikahan. Sejak pandemi, sudah tidak ada panggilan manggung," ungkapnya.



Dengan ketegaran hatinya, Saepuloh dan sang istri Ina Siti Rohmah (21) tetap menyayangi sang anak dan akan terus berikhtiar mengusahakan biaya pengobatannya.

"Saya dan istri saya menerima dengan lahir dan batin, saya akan terus mengusahakan kesembuhan anak saya," ujarnya.

Meski, usaha-usaha yang ditempuh Saepuloh belum membuahkan hasil. Dia hanya bisa berharap ada keajaiban dari sang pencipta agar anaknya bisa sembuh.




Saat ini, sang anak tinggal di rumah Ma Ende nenek Saepuloh di Jalan Aki Padma, Kelurahan Babakan, Kecamatan Babakan Ciparay, Kota Bandung, Jawa Barat.

Dikarenakan, istrinya belum bisa mengurus anaknya akibat keterbatasan fisik, cacat kaki kiri dari lahir.

Sebelumnya, Saepuloh tinggal disebuah kontrakan di kawasan Warung Muncang, Kota Bandung dengan kondisi yang cukup miris. 




Kontrakannya, berada didekat selokan, aroma saluran pembuangan air itu masuk ke dalam. Jadi rumahnya terasa pengap dan bau.

Saepuloh juga berharap ada pihak yang mau mengulurkan tangan, khususnya Pemerintah Kota Bandung agar bisa membantu biaya operasi kepala sang anak.(Aris)




Editor: Suherlan
    Bagikan:  


Berita Terkait