Merasa Dilecehkan di Medsos, Puluhan Tenaga Medis di Pangandaran Laporkan Pelaku ke Polisi

Jawa Barat —Selasa, 26 Jan 2021 22:19
    Bagikan:  
Merasa Dilecehkan di Medsos, Puluhan Tenaga Medis di Pangandaran Laporkan Pelaku ke Polisi
Puluhan Nakes yang berada di wadah organisasi dan profesi IDI,IBI dan PPNI Pangandaran saat melaporkan pelaku ke Polsek Parigi (foto: dry)
POSKOTAJABAR,PANGANDARAN

Puluhan tenaga medis yang tergabung dalam beberapa wadah profesi yaitu Ikatan Bidan Indonesia (IBI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI)  dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) dan juga Dinas Kesehatan Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat mendatangi Mapolsek Parigi Polres Ciamis, Selasa (26/01/2021).

Kedatangan mereka ke Polsek Parigi untuk melaporkan oknum warga Desa Selasari yang sudah mencemarkan nama baik dan ujaran kebencian kepada profesi Bidan, Dokter dan Perawat.

Ujaran kebencian yang dilakukan S itu diluapkan via medsos Status WhatsApp pada Senin (25/01/2021) malam.

Sekretaris Dinas Kesehatan sekaligus Dewan Pertimbangan PPNI Kabupaten Pangandaran,  Yadi Sukmayadi mengaku, pihak Dinas Kesehatan mendapatkan aspirasi dari teman-teman yang tertera di medsos tersebut itu menyangkut tiga buah organisasi dan profesi yang sangat besar.

"Ketiga organisasi dan profesi besar itu yakni, IDI, IBI dan PPNI," ujarnya kepada POSKOTAJABAR di Mapolsek Parigi, Selasa (26/01/2021).

Dia mengaku, seluruh tenaga  kesehatan di bawah naungan Dinkes Pangandaran sangat menyesalkan sekali dengan apa yang dilakukan oknum masyarakat tersebut yang ditujukan kepada Nakes.

"Sementara kita di Kabupaten Pangandaran sedang berjuang mengatasi masalah pandemi Covid-19," ungkap Yadi.

Menurut dia, pihaknya tahu dampak Covid19 ini dirasakan oleh semua kalangan. Tapi mengapa profesinya yang dihinakan. Padahal kami pun selama hampir setahun ini berjuang dan merasakan dampaknya.

"Kami juga sama terkena dampak pandemi Covid-19," akunya.



Kata Yadi, Postingan itu telah membuat 3 organisasi tenaga medis yakni IDI, PPNI dan IBI di Pangandaran terusik dan berniat membawa perkara ini ke ranah hukum.

“Tenaga medis di Pangandaran resah bahkan marah dengan kejadian ini. Yang membuat kami sakit dalam postingan si pelaku ada kata-kata kotor nama binatang," geram Yadi.

Yadi menyebutkan, bahwa yang kami sesalkan dan sangat melukai perasaan kami. Mengapa profesi kami yang jadi sasaran.

"Kalau mau protes atau kritik silahkan sampaikan dengan cara yang benar," sarannya.





Sementara itu, Ketua Dewan Pengurus Daerah Persatuan Perawat Nasional Indonesia Kabupaten Pangandaran, Aa Sukmadi menambahkan, oknum  masyarakat meluapkan kekesalan di medsos sangat tidak pantas dan melecehkan profesi tenaga medis baik dari, Dokter, Perawat Kesehatan maupun rekan dari para Bidan yanasedang bercibaku menjalankan kebijakan pemerintah dalam penanganan Covid 19.

"Ujaran kebencian terhadap para anggota profesi, tentunya hal ini tidak bisa dibiarkan, bukan saja menyangkut terhadap harkat dan martabat profesi saja, akan tetapi menyangkut terhadap kebijakan pemerintah yang menimbulkan kontra produktif terhadap pemerintah dalam penanganan Covid-19," tambah Aa.

Kata Aa, dirinya sangat memahami dengan keluhan warga masyarakat yang kini sangat terpuruk dalam segi ekonomi lantaran pandemi Covid-19.

"Sampai sekarang masyarakat belum teredukasi secara maksimal, dampak dari penanganan Covid-19 melalui kebijakan pemerintah yang diterima, seperti yang dirasakan oleh pelaku saat ini," tuturnya.




Menurut dia, si pelaku merasa terdampak atas kebijakan pemerintah dalam penganan Covid 19, akan tetapi selayak alangkah baiknya janganlah memberikan komentar-komentar yang tidak pantas apalagi menyangkut organisasi profesi nakes di medsos.

"Kritik boleh demi membangun, kalau kritik lantaran dibarengi benci maka tidak akan baik hasilnya, contohnya seperi sekarang ini," ucapnya.

Aa menerangkan, kami dari tiga organisasi dan profesi serta Dinas Kesehatan Pangandaran membuat laporan polisi karena kata-kata dalam medsos tersebut sangat menyakitkan.

"Sebenaemya  tanpa pengaduan dari kami pun seharusnya pihak pemerintah harus menindak lanjuti si pelaku, Ini merupakan ujaran kebencian dan melanggar Undang-Undang ITE," pungkasnya. (dry)




Editor: Suherlan
    Bagikan:  


Berita Terkait