Relawan Pikul Jenazah TPU Cikadut Hadir Pada Saat Orang Takut Bersentuhan dengan Korban Covid-19

Jawa Barat —Rabu, 27 Jan 2021 16:22
    Bagikan:  
Relawan Pikul Jenazah TPU Cikadut Hadir Pada Saat Orang Takut Bersentuhan dengan Korban Covid-19
Pemakaman janazah Covid-19 terpaksa dilakukan tanpa bantuan relawan pikul jenazah. (Aris)
POSKOTAJABAR, BANDUNG

Kordinator relawan pikul jenazah TPU Cikadut, Fajar Irfana, mengatakan, apa yang dilakukannya adalah jasa kemanusiaan. Pada saat semua orang takut bersentuhan dengan korban pandemi Covid-19, relawan hadir bersama membantu keluarga yang tertimpa musibah.

"Relawan ada karena kondisi yang tidak memungkinkan dari areal pemakaman. Mobil tidak bisa masuk dan tidak ada petugas yang disiapkan pemerintah kota untuk menggotong jenazah ke areal makam yang medannya curam, berkelok, hamparan tanah liat, dan kerikil tajam," ungkapnya, Rabu (27/01/2021).

Fajar menjelaskan, relawan pikul jenazah Covid-19 ada karena ketidakmampuan Pemerintah Kota  (Pemkot) Bandung menyiapkan sarana pemakaman yang memadai bagi warga kota yang meninggal akibat pandemi Covid-19.

Awalnya, sekitar sembilan bulan lalu, relawan yang semuanya bertempat tinggal di kawasan Cikadut melihat ada jenazah yang sudah tiba di tempat pemakaman tidak bisa dikubur karena tidak ada keluarga yang mengiringinya. Padahal, makam sudah tersedia (liang lahat sudah digali) dan petugas kubur jenazah juga sudah menunggu disana.


Karena peduli pada kemanusiaan, relawan datang membantu. Awalnya semua teman takut karena image tentang Covid-19 itu begitu menakutkan. "Takut ketularan lah. Macam-macam lah," tuturnya.

Peti jenazah korban Covid-19 digotong Fajar dan kawan-kawan hanya dengan menggunakan baju hujan. "Saat itu kami belum punya baju hazmat. Gotongnya juga gak pakai sepatu. Biasa aja, hanya pakai sendal. Tepi pakai masker. Kami takut tertular juga, saat itu. Dulu juga kami sulit menerima keputusan pemerintah, yang menyiapkan lahan kuburan Covid-19 di tempat kami," kenangnya.

Jasad anggota keluarganya sudah bisa dikebumikan, keluarga korban berterima kasih, dengan memberikan uang jasa pikul. Setelah itu, bencana datang. Mengetahui Fajar dan kawan-kawan baru saja menggotong jenazah korban Covid-19, warga menjauhinya. "Takut tertular," katanya.

Saat itulah, Fajar dan kawan-kawan bergerak, menyosialisasikan bahwa apa yang dilakukannya adalah menjalankan perintah agama. Mengurus jenazah sampai tempat peristirahatannya terakhir. Tetapi warga tetap, masih khawatir.


Karena relawan sehat-sehat saja, seiring berjalannya waktu, kekhawatiran warga hilang dengan sendirinya. Personel juga bertambah dari awalnya hanya 8 orang kini jumlah relawan pikul sudah beranggotakan 40 orang.

"Selain itu, relawan juga sudah bisa mencukupi kebutuhan alat perlindungan diri seperti baju hazmat, secara mandiri. Kita sekarang juga sudah pakai sepatu, nggak sendalan lagi," ujarnya.

Agar kesehatannya tetap terjaga, relawan pikul jenazah Covid-19, kata Fajar, juga menyediakan vitamin, agar kesehatan anggotanya tetap terjaga. Selain itu, relawan secara mandiri, juga melakukan test swab, dua bulan sekali. "Bila masih ada uang lebih, kita sumbangkan ke madrasah untuk baksos (bakti sosial) ke masyarakat sekitar," ungkapnya.

Fajar juga mengungkapkan, tak ada keharusan, apalagi paksaan bagi keluarga jenazah untuk memanfaatkan jasa mereka. Namun, berdasarkan pengalamannya, tidak banyak keluarga yang berani mengangkut peti jenazah. Kalaupun ada, jumlahnya terbatas. Akhirnya dibantu juga.


Selain itu, tak banyak dari anggota keluarga yang membawa APD seperti baju hazmat. Padahal, aturannya harus pakai APD. Fajar dan teman-temannya bukan tenaga kontrak harian lepas UPT Pemakaman TPU Cikadut.

Meski demikian, mereka juga siaga 24 jam karena pemakaman jenazah terinfeksi Covid-19 tidak mengenal waktu.

"Siang, malam, dini hari, hujan, panas, terik, kalau ada jenazah diantar ambulans, kami pikul, kami antar ke liang lahat. Kalau enggak gitu, siapa yang mau angkut? Kami sudah sedia APD, pakai baju hazmat kalau memikul peti, sudah aturannya begitu," kilahnya. (Aris)


Editor: Setiawan
    Bagikan: