Pasangan Suami Istri Menipu Hingga Rp 39,5 Miliar dengan Modus Mengaku Mantan Menantu Petinggi Polri

Kriminal —Rabu, 27 Jan 2021 19:21
    Bagikan:  
Pasangan Suami Istri Menipu Hingga Rp 39,5 Miliar dengan Modus Mengaku Mantan Menantu Petinggi Polri
Pasutri penipu investasi proyek bodong (pakai baju tahanan) diamankan di Mapolda Metro Jaya. (Ist.)
POSKOTAJABAR, JAKARTA.  

Pasangan suami istri (pasutri)  menipu pengusaha tajir berkedok investasi proyek, hingga mencapai Rp. 39,5 Miliar. Modusnya dengan mengaku mantan menantu petinggi Polri. Pasutri DK alias DW dan KA ditangkap bersama lima rekannya di lokasi terpisah di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan.
 
Dalam aksinya, DK sebagai otak pelaku, menawarkan investasi sejumlah proyek. Diantaranya di bidang tambang, yang semuanya fiktif. DK dan KA kini mendekam di rutan Polda Metro Jaya. Sedangkan, tersangka FCT, BH, FS, DWI, dan CN tidak ditahan lantaran perannya tidak aktif.
 
Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol. Yusri Yunus, mengatakan, agar korban ARN percaya dengan tawaran investasi proyek tersebut, tersangka DK mengaku mantan menantu Kapolri TP.


 "Otak kawanan ini adalah DK dibantu istrinya KA. Kepada korban, pelaku mengaku mantan menantu salah satu petinggi Polri serta besarnya keuntungan yang ditawarkan. Sehingga, korban percaya hingga mau menginvestasikan dananya," kata Yusri Yunus di Mapolda Metro Jaya, Rabu (27/01/2021).
 
Yusri menjelaskan, penipuan yang dilakukan para tersangka berlangsung sejak Januari 2019 hingga awal 2020. Ada 6 proyek fiktif yang ditawarkan kepada korban untuk berinvestasi sepanjang 2019 hingga awal 2020. Proyek fiktif itu mulai dari proyek tambang batu bara hingga proyek pengurusan perparkiran di mall dan hotel. Pelaku juga mengaku memiliki banyak pengalaman di bidang bisnis perminyakan dan memiliki banyak proyek yang menjanjikan banyak keuntungan.
 
Kepada korban, tersangka menawarkan kerjasama proyek dengan menunjukkan worksheet proyek yang isinya penjabaran modal yang dibutuhkan dan keuntungan yang akan diperoleh oleh korban. Selanjutnya, tersangka meminta korban untuk memberikan uang atau dana dalam rangka membiayai proyek-proyek tersebut. Hingga totalnya sebesar Rp. 39,5 Miliar.
 

Namun, pada akhir 2020, korban mulai curiga saat tersangka tidak bisa dihubungi dan menghilang. Sehingga, melaporkan kasus penipuan dan penggelapan serta menampung uang hasil kejahatan tersebut ke Polda Metro Jaya, pada 21 Januari 2020. Dari para tersangka petugas menyita identitas dan dokumen-dokumen investasi bodong yang digunakan para tersangka melakukan aksi penipuan.
 
Sementara itu, pengacara korban ARN, Albert Yulius, menambahkan, kasus ini berawal dari pertemuan mereka selanjutnya tersangka memperkenalkan diri sebagai menantu mantan petinggi Polri.  "Pengakuan itu membuat klien kami tertarik menanamkan uangnya untuk 6 proyek yang ditawarkan itu, hingga mengeluarkan dana sebesar Rp 39,5 Miliar," tukas Albert.
 
Albert meminta penyidik Subdit Harda Ditreskrimum Polda Metro Jaya untuk memproses kasus ini hingga tuntas sampai ke pengadilan. "Kami percaya kepada Polri karena sejak awal kasus ini ditangani dengan serius. Selain itu, juga untuk membersihkan nama baik Polri yanh disebut-sebut tersangka," ungkapnya. (ilham/ruh)
Editor: Setiawan
    Bagikan: