Bebas, Pelaku Ujaran Kebencian kepada Nakes di Kabupaten Pangandaran Akhirnya Minta Maaf

Jawa Barat —Jumat, 29 Jan 2021 16:55
    Bagikan:  
Bebas, Pelaku Ujaran Kebencian kepada Nakes di Kabupaten Pangandaran Akhirnya Minta Maaf
S pada saat membacakan isi surat pernyataan diri di Polsek Parigi yang disaksikan pihak Polisi, Para Nakes dan Seniman (foto: ist)
POSKOTAJABAR,PANGANDARAN.

Setelah beberapa orang perwakilan dari Dewan Kesenian, Kabid dan Kasi Budaya Dinas Pariwisata dan Kebudayaan serta perwakilan praktisi seni budaya melakukan mediasi dengan pihak tenaga kesehatan dan organisasi profesi yang diwakili Kadinkes yang hadiri oleh Asda II, Kabag Hukum Setda Kabupaten Pangandaran beberapa hari yang lalu membuahkan hasil yang memuaskan.

Hari ini, Jumat (29/01/2021) pelaku ujaran kebencian berinisial S warga Desa Selasari, Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran dapat menghirup bebas setelah tiga hari sejak Selasa (26/01/2021) mendekam dibalik jeruji Polsek Parigi.

S mendekam di Polsek Parigi karena ulahnya yang membuat ketiga profesi yakni Bidan, Perawat dan Dokter geram dan melaporkannya S ke polisi atas tuduhan ujaran kebencian yang diunggah pelaku di snap WhatsApp pada Senin (25/01/2021) malam.

Akhirnya, S bebas dan memohon permintaan maaf yang dilakukan diikrarkan dihadapan sejumlah awak media, pelaku seni dan perwakilan tenaga medis dihadapan penegak hukum.


Ikrar tersebut diantaranya, S mengakui perbuatan yang telah dilakukan merupakan kesalahan dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatan serupa.

"Saya meminta maaf kepada semua yang berprofesi sebagai dokter, perawat dan bidan serta Pejabat di Negara Kesatuan Republik Indonesia khususnya wilayah Pangandaran," ucap S dihapadan para tenaga medis. Jumat (29/01/2021).



S berjanji, jika dirinya mengulangi perbuatan tersebut maka siap untuk diajukan perkaranya sebagaimana hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Saya tidak akan dendam kepada pelapor dan atau kepada pihak lain atas terjadinya permasalahan ini," sebutnya.

S juga sanggup dan bersedia menghadap kembali apabila sewaktu-waktu dibutuhkan oleh penyidik untuk melakukan penyidikan lebih lanjut dan atau oleh pihak Kejaksaan Negeri maupun Pengadilan Negeri Ciamis di Persidangan.

"Saya juga sanggup menerima sanksi hukum yang berlaku di Negara Kesatuan Republik Indonesia apabila point tersebut diatas tidak diindahkan," tegasnya.



Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Aceng Hasim yang menaungi kelompok seniman Pangandaran, mengimbau untuk hati-hati dalam mengungkapkan perasaan di sosial media.

"Meskipun kita mempunyai rasa benci, tapi harus bisa menahan emosi," imbaunya.

Dia berharap, semua pelaku seni bisa menjadikan contoh rekannya untuk tidak berlebihan menyampaikan pendapat dan ujaran kebencian di sosial media.

"Kalau mau menyampaikan keluhan di media sosial boleh saja, tapi jangan melanggar," pungkasnya. (dry)



  
Editor: Suherlan
    Bagikan:  


Berita Terkait