Abu Janda, Riwayatmu Kini

Opini —Sabtu, 30 Jan 2021 19:26
    Bagikan:  
Abu Janda, Riwayatmu Kini
Heddy Setya Permadi atau biasa dipanggil Permadi Arya alias Abu Janda. (lawjustice)

Oleh KARYUDI SUTAJAH PUTRA 

Ibarat telur, Abu Janda kini di ujung tanduk. Tanduk itu adalah tongkat komando Kapolri. Telur itu mau pecah atau tidak, tergantung Kapolri.

Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo sendiri telah berikrar, tidak akan diskriminatif dalam menegakkan hukum dan keadilan. Hukum, katanya, tidak akan lagi tajam ke bawah tapi tumpul ke atas. Artinya, hukum akan tajam ke semua arah dan kepada siapapun.

Mantan Kepala Badan Reserse Krimimal (Bareskrim) Polri ini, telah membuktikan ikrarnya itu dengan menahan Ketua Relawan Pro Jokowi-Ma'ruf Amin atau Pro Jamin, Ambroncius Nababan, Selasa (26/01/2021). Ambroncius disangka menghina Natalius Pigai dengan menyandingkan potret mantan komisioner Komnas HAM itu dengan gambar gorila di akun Facebook-nya. Inilah debut Listyo Sigit sebagai Kapolri.

Di pihak lain, Natalius Pigal ibarat mendapat durian runtuh. Setelah Ambroncius Nababan masuk penjara, kini Abu Janda pun diprediksi akan bernasib sama. Penyebabmya pun sama: dugaan rasis! Di media sosialnya, Ambroncius menjejerkan foto Pigai dengan gambar gorila. Di medsosnya pula, Twitter, Abu Janda mempertanyakan evolusi Pigai sudah selesai atau belum.

Heddy Setya Permadi, atau biasa dipanggil Permadi Arya, nama asli Abu Janda, pun berkilah. Sebagai Muslim, ia mengaku tak percaya dengan kebenaran teori evolusi Darwin, sehingga ungkapannya itu bukan untuk menghina Pigai. Abu Janda juga mengutip kata evolusi di Kamus Besar Bahas Indonesia (KBBI) yang artinya adalah berkembang.

BACA JUGA:  Satgas Covid-19 Kecamatan Pangandaran Bubarkan Acara Hiburan Diduga Rombongan Wagub Jabar

Darwin dimaksud adalah Charles Robert Darwin (1809-1882) yang dikenal sebagai ahli biologi, ekologi, dan geologi asal Inggris. Darwin sangat terkenal dengan teori evolusinya. Dia beraksioma, semua spesies berasal dari nenek moyang bersama dan berkembang dari waktu ke waktu. Dalam teorinya, Darwin menyebut manusia adalah hasil evolusi dari kera atau monyet.

Ambroncius telah minta maaf. Tapi permintaan maaf itu tak menggugurkan delik pidananya. Ia ditetapkan sebagai tersangka kemudian ditangkap dan ditahan Bareskrim Polri.

Bagaimana dengan Abu Janda? Ia belum minta maaf. Mungkin masih pikir-pikir. Tapi, berdasarkan "yurisprudensi" Ambroncius, andaikata minta maaf pun, dugaan delik pidana Abu Janda tampaknya tak akan gugur.

Kecuali jika terjadi anomali. Kecuali jika ada invisible hands di belakangnya. Diduga gegara ada invisible hands itulah, maka selama ini Abu Janda selalu bisa lolos dari lubang jarum jerat pidana.

Sedikitnya, sudah lima kali ini Abu Janda dilaporkan ke polisi. Namun, apa pun perkara yang dituduhkan kepadanya, ujung-ujungnya Abu Janda tak tersentuh. "He is untouchable man".

Implikasinya, Abu Janda terjebak arogansi. Mungkin dipicu oleh arogansinya itulah, maka Abu Janda menyebut Islam itu arogan. Jadi, ada dua delik yang sesungguhnya bisa diadukan atas Abu Janda: ungkapan kebencian bernuansa rasis, dan menganggap Islam itu arogan. Keduanya SARA.

BACA JUGA:  Abu Janda, Senin Diperiksa Bareskrim Polri Kasus Dugaan Menghina Agama dan Ujaran Kebencian

Belakangan, Abu Janda siap memenuhi panggilan Polri untuk diperiksa. Pihak Polri menyatakan akan memeriksa Abu Janda, Senin (01/02) lusa. Surat panggilan sudah dikirimkan kepada Abu Janda, Sabtu (30/01) ini.

Selain mengaku tidak percaya dengan kebenaran teori Darwin, Abu Janda juga beralibi cuitan "Islam arogan" merupakan sanggahan atas cuitan Tengku Zulkarnain, mantan Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahwa kelompok minoritas di Afrika itu arogan, dalam twitwar atau perang cuitan keduanya di Twitter.

Adapun cuitan soal evolusi dilakukan Abu Janda untuk membela AM Hendropriyono ketika Pigai mempertanyakan kapasitas mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) itu dalam twitwar Pigai dan Hendro, 2 Januari lalu.

Serangan Balik

Sepandai-pandai tupai melompat, pasti akan kawal juga. Begitu pun Abu Janda. Benarkah demikian?

Biarlah polisi yang menjawab. Yang pasti, Denny Siregar, rekannya sesama influencer pendukung Presiden Jokowi, sudah menyampaikan pembelaan. Apa kata Denny yang sejauh ini juga untouchable man?

Menurut Denny, ungkapan “belum selesai evolusi” dari Abu Janda tidak bisa dikatakan rasisme. Itu karena evolusi adalah peristiwa yang masih terus dialami manusia.

Cuitan Abu Janda, kata Denny, seperti dikutip sebuah media, memang kasar dan cenderung menghina pribadi Pigai. Itu harus diakui. Tapi apakah itu bisa dijadikan alat bukti hukum supaya dia dipenjara karena rasisme?

BACA JUGA:  Jenazah Kapten Afwan Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 Diserahkan ke Keluarga

Nanti dulu, tangkis Denny. Kita harus tahu dulu apa arti evolusi. Menurut Denny, evolusi adalah perubahan bertahap, di mana sesuatu berubah dari satu bentuk ke bentuk yang lebih kompleks. Nah, pertanyaan Denny, apakah kita sudah berhenti berevolusi?

Dr. Virpi Lummaa, seorang peneliti dari University of Sheffield, Inggris, disebut Denny menyatakan bahwa evolusi manusia tidak akan berhenti hanya karena monogami. Manusia terus berevolusi seperti makhluk liar lainnya. Para ilmuwan menyebut model evolusi lambat ini dengan microevolution, berbeda dengan evolusi dulu kala yang sangat cepat.

Siapa pun boleh bersilat lidah. Tapi common sense (perasaan umum) sudah terlanjur terbentuk. Abu Janda pun sudah dilaporkan ke Bareskrim Polri, Kamis (28/01/2021). Bola kini ada di tangan Kapolri. Abu Janda, riwayatmu kini.

Namun, common sense lain pun sudah terlanjur terbentuk terkait Natalius Pigai yang pernyataan-pernyataannya kerap memicu kontroversi. Maka, bisa jadi Pigai pun dilaporkan ke polisi, termasuk oleh Abu Janda. Pigai pun bisa dituduh rasis.

Akankah Abu Janda melakukan serangan balik? "Pertahanan terbaik adalah menyerang," kata Sun Tzu (544–496 SM), filsuf, jenderal dan ahli strategi perang asal Tiongkok kuno yang menulis buku The Art of War.

Bahkan, Abu Janda seolah menantang Pigai: laporan mana dulu yang akan diproses polisi!

"Sekarang, presiden satu daerah, wakil presiden satu pulau. Terus sekarang, yang berasal dari luar pulau (Jawa) itu apa? Babu? Begitu? Sampai kapan mau menjadi babu?" kata Pigai dalam potongan video yang diunggah Abu Janda, seperti dilansir sebuah media.

BACA JUGA:  Kolom Pekerjaan Abu Janda Tidak Diketahui, Ramai dibahas Netizen

Bola dugaan rasis Pigai pun akan ada di tangan Polri, jika ada pihak yang melaporkannya. Apakah Pigai juga di ujung tanduk? Bisa jadi durian runtuh itu menimpa diri Pigai yang menyebabkannya sakit. Jadi, Pigai jangan jemawah dulu. Benarkah?

Kita tidak tahu pasti. Yang jelas, Listyo Sigit sudah berikrar untuk tidak diskriminatif dalam menegakkan hukum dan keadilan.

Terlepas dari itu, apa sesungguhnya manfaat bagi bangsa ini dari ungkapan-ungkapan Abu Janda dan Denny Siregar di satu pihak maupun Natalius Pigai dan Tengku Zulkarnain di pihak lain selama ini, selain kegaduhan demi kegaduhan? Lebih banyak mudaratnya daripada manfaatnya.

Abu Janda dan Denny Siregar menjaga kebinekaan? Jagalah Bhinneka Tunggal Ika dengan tidak mengganggu kebinekaan pihak lain. Tak seorang pun bisa memilih untuk dilahirkan dari etnis apa. Itu kehendak dan rahmat Tuhan. Termasuk Pigai yang dari Papua itu.

Pigai dan Zulkarnain menjaga demokrasi? Demokrasi pun ada batasnya, yakni etika dan hukum. Kalau demi demokrasi lalu melanggar hukum, siapa pun harus diminta pertanggungjawaban sesuai prinsip equality before the law.

Entah Abu Janda, Denny Siregar, Pigai atau pun Zulkarnain kalau memang melanggar hukum, tak ada alasan untuk tidak diproses. Indonesia adalah negara hukum. Tak ada yang kebal hukum di bumi Pancasila ini. Ambroncius Nababan adalah contohnya. Bravo Kapolri! ***

* Karyudi Sutajah Putra, wartawan, penulis, konsultan.

Editor: Setiawan
    Bagikan:  


Berita Terkait