Mengenal Psikosomatis, Penyakit Mental yang Diderita Andin Dalam Sinetron Ikatan Cinta

Kesehatan —Senin, 1 Feb 2021 15:00
    Bagikan:  
Mengenal Psikosomatis, Penyakit Mental yang Diderita Andin Dalam Sinetron Ikatan Cinta
Andin Dalam ikatan cinta - foto Youtube

POSKOTAJABAR, BANDUNG

 

Sinetron Ikatan cinta memang sedang membooming dan menjadi tontonan favorit para penggemar sineas di Indonesia.


Kisah yang menarik salah satunya adalah tentang Andin yang mengalami konflik batin dan gangguan mentalnya. Kepedihan yang dilalui Andin begitu banyak.


rasa sakit dan kekecewaan bertubi-tubi yang melayani Andin, membuat Andin menderita. Mulai dari dituduh membunuh, dipenjara atas kesalahan yang tidak dilakukan Andin, diceraikan oleh Nino saat dalam kondisi terbaru, hamil anak Nino tetapi tidak di akui, serta anak yang telah dinyatakan meninggal oleh saudaranya, Elsa.


BACA JUGA:  Sinopsis Ikatan Cinta Senin 1 Februari 2021, Andin Membutuhkan Aldebaran Disaat Al Mulai Menjauh


Kini Andin mengalamititik terpuruk, saat dirinya melihat bahwa orang yang dia cintai, pernah mencoba membalas dendam dan menolak nyawa dan menyatakan, Surya.


Konflik tubi-tubi yang menyudutkan gangguan mental, akhirnya Andin diagnosis mengalami gangguan mental, keluhan sesak napas hingga panik. Meski tubuh terasa sakit dan nyeri di dada hingga kepala yang sakit gejala sakit gejala setelah diadakanya pemeriksaan. menurut beberapa netizen beranggapan bahwa Andin mengidap Psikosomatis.

 Psikosomatis, apakah itu?


 


PSIKOSOMATIS

 

DILANSIR DARI Alodokter, Psikosomatis terdiri dari dua kata, pikiran ( psyche ) dan tubuh ( soma ). Gangguan psikosomatis adalah penyakit yang melibatkan pikiran dan tubuh, di mana pikiran memengaruhi tubuh hingga penyakit muncul atau menjadi bertambah parah. Masalah gangguan psikosomatis yang digunakan untuk menangani keluhan fisik yang diduga disebabkan atau diperparah oleh faktor psikis atau mental, seperti stres dan rasa cemas.


BACA JUGA:  Ramalan Zodiak Besok Selasa 2 Februari 2021, Sagitarius Titik Jenuh, Leo Hari Spesial


Sedangkan dalam istilah psikologi, psikosomatis atau penyakit "fungsional" merupakan kondisi yang menyebabkan rasa sakit dan masalah pada fungsi tubuh, walaupun tidak ditemukan kelainan pada pemeriksaan fisik, atau pemeriksaan penunjang seperti Rontgen atau tes darah.

Bagaimana Pikiran Memengaruhi Penyakit?

Seperti diketahui, pikiran dapat menyebabkan perubahan pada fisik seseorang. Contohnya, ketika merasa takut atau cemas, dapat menentukan tanda-tanda seperti denyut jantung menjadi cepat, jantung berdebar-debar (palpitasi), mual atau ingin muntah, gemetaran (tremor), berkeringat, mulut kering, sakit dada, sakit kepala, sakit perut , napas menjadi cepat, nyeri otot, atau nyeri punggung. Gejala fisik tersebut disebabkan oleh kejadian listrik atau impuls saraf dari otak ke berbagai bagian tubuh. Selain itu, pelepasan zat adrenalin (epinefrin) ke dalam aliran darah juga bisa menyebabkan gejala fisik di atas.

Hingga kini, bagaimana pikirannya dapat menentukan dan memengaruhi penyakit fisik, seperti ruam kulit atau darah tinggi, belum diketahui dengan jelas. Impuls saraf yang arahnya menuju bagian-bagian tubuh atau otak, diduga dapat memengaruhi sel tertentu dalam sistem kekebalan tubuh, sehingga menyebabkannya gejala penyakit. Tapi hal total ini masih belum benar terimplementasikan.


BACA JUGA:   T oko Outlet di Lantai Satu Bogor Trade Mall Terbakar, Pengunjung Berhamburan Menyelamatkan Diri


Penyakit karena Psikosomatis

 

Ketika faktor mental gejala penyakit, tetapi penyakit itu sendiri tidak dapat ditemukan atau dideteksi secara fisik, atau keluhan sakit yang tidak sesuai gejalanya, berbagai kondisi ini dikelompokkan dalam gangguan psikosomatis. Keluhan psikosomatis kadang-kadang sulit untuk dikenali, baik oleh penderitanya sendiri maupun oleh dokter, karena tidak menunjukkan tanda dan gejala yang spesifik. Namun satu hal yang pasti, gangguan ini dapat menyebabkan permasalahan nyata bagi penderita dan orang di sekitarnya.

Beberapa penyakit tertentu memang terbukti dapat diperberat oleh kondisi mental seseorang. Misalnya pada penyakit psoriasis, tukak lambung, tekanan darah tinggi, diabetes, dan eksim. Kondisi penyakit tersebut tak jarang akan kambuh atau semakin berat ketika penderitanya mengalami stres atau cemas. Namun secara fisik, kondisi tersebut terlihat nyata dan dalam pemeriksaan fisik akan terdeteksi oleh dokter.


BACA JUGA:   Satu Pekan Jalalani Perawatan di RSUD Pandega, Kondisi Fisik Bupati Jeje Semakin Membaik


Berbeda dengan gangguan psikosomatis, gejala gejala yang muncul dan tanda kelainan fisik yang terdapat pada penderitanya tidak selalu jelas, dan tidak terdeteksi oleh dokter. Namun, keluhan dan dampak dari gangguan tersebut dirasakan nyata oleh pasien. Hal inilah yang menyebabkan gangguan psikosomatis terkadang untuk dideteksi.

Gangguan psikosomatis adalah gangguan yang dilakukan oleh psikiater, dan gangguan gangguan psikosomatis memerlukan perpaduan antara psikoterapi dengan obat-obatan medis. Meski tidak terlihat secara fisik, keluhan psikosomatis ini menimbulkan permasalahan yang nyata bagi penderitanya. - RES

 

 

Editor: Resti
    Bagikan:  


Berita Terkait