Pandemi Covid-19, Produksi Garam Menurun, Diperparah Kebijakan Impor Garam

Jawa Barat —Selasa, 2 Feb 2021 16:02
    Bagikan:  
Pandemi Covid-19,  Produksi Garam Menurun, Diperparah Kebijakan Impor Garam
Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Jabar Dede Sunendar saat ditemui di kantor Dinas Perikanan dan Kelautan, Jalan Wastukencana, Kota Bandung, Selasa (2/1/2021). (foto: Aris)
POSKOTAJABAR, BANDUNG
Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Barat menyampaikan bahwa produksi garam selama pandemi Covid-19 menurun hampir 80 persen. Kondisi diperparah dengan adanya kebijakan impor garam.

Sekretaris Dinas Kelautan dan Perikanan Jabar, Dede Sunendar mengatakan, produksi garam menjadi salah satu yang terdampak Covid-19. Meski begitu dipastikan stok garam di gudang masih mencukupi.

"Produksi garam terdampak di saat pandemi, garam ini produksinya jauh menurun sampai 80 persen. Karena memang stok yang tahun lalu itu masih ada di gudang-gudang," katanya saat ditemui di kantor Dinas Perikanan dan Kelautan, Jalan Wastukencana, Kota Bandung, Selasa (02/02/2021).

Dede menjelaskan bahwa salah satu faktor penghambat produksi adalah sulitnya pemasaran garam di tengah pandemi Covid-19. "Karena memang di tengah pandemi ini pasarnya agak sulit," jelasnya.

Dede mengungkapkan, turunnya produksi garam akan menjadi perhatian Dinas Kelautan dan Perikanan.


Tak hanya itu, Dede juga menjelaskan, menurnnya produksi garam saat Pandemi Covid-19 ini juga diperparah dengan adanya kebijakan impor garam. Menurutnya, jika kebijakan impor distop, kebutuhan garam di Jabar masih mencukupi.

"Ini yang menjadi pekerjaan rumah, bersama. Makanya sekarang jadi bahan pembahasan karena garam itu tidak cukup dengan kebijakan local provisi atau interlocal, tapi harus nasional. Kalau kita stop impor garam, sebenarnya garam kita mencukupi," ungkapnya.




Dede menuturkan, setiap tahunnya produksi garam di Jabar sekitar 300 sampai 400 ribu ton per tahun dan ketiga terbesar di Indonesia. Oleh karena itu, lanjut dia, garam di Jabar sangat melimpah sehingga diperlukan kebijakan yang dapat mengoptimalkan produksi garam.

"Harusnya kan serap duku garam kita, baru kekurangannya Impor. Belum ada yang mampu menyetop impor garam," tutupnya. (Aris)



Editor: Suherlan
    Bagikan:  


Berita Terkait