Akibat Pergerakan Tanah, Warga di Tiga Kedusunan Kabupaten Tasikmalaya Memilih Tinggalkan Rumah

Jawa Barat —Rabu, 3 Feb 2021 18:20
    Bagikan:  
Akibat Pergerakan Tanah, Warga di Tiga Kedusunan Kabupaten Tasikmalaya Memilih Tinggalkan Rumah
Teras rumah warga mengalami keretakan akibat pergerakan tanah. (foto:kris)
POSKOTAJABAR, TASIKMALAYA.
Hujan deras di sertai angin kencang kembali terjadi di Wilayah Kabupaten Tasikmalaya dan sekitarnya, Hujan dengan intensitas deras menyebabkan longsor dan pergerakan tanah di beberapa titik lokasi terjadi di kedusunan di Desa Sukapada, Kecamatan Pagerageung, Kabupaten Tasikmalaya.

Warga masyarakat di tiga kedusunan memilih meninggalkan rumahnya. Kejadian tersebut t sudah sejak lama dan terakhir di pertengah Januari 2021 sebanyak lima rumah ditinggalkan penghuninya dan sekarang tiga kedusunan meninggalkan rumah mereka yakni di kedusunna Garadaha, Bojot dan Citeureup. 

Akibat pergerakan tanah yang terjadi di tiga kedusunan menyebabkan rumah retak-retak dan miring dan dikhawatirkan rumahnya ambruk dan mengancam keselamatan.  Untuk itu, warga memilih untuk mengungsi.

Salah seorang warga yang mengungsi, Mukmin (45 ) asal warga Kedusunan Bojot mengatakan, dia memilih untuk meninggalkan rumahnya karena khawatir ambruk dan mengancam keselamatan jiwanya.

"Saya memilih meninggalkan rumah karena khawatir rumah ambruk dan membahayakan seisi rumah," kata Mukmin kepada wartawan, Rabu (03/02/2021).




Kepala Desa Sukapada, Achmad Hidayat membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, pergerakan tanah sudah terjadi sejak tahun 1995. hingga mengakibatkan rumah warga mengalami kerusakan dan terakhir pergerakan tanah kembali terjadi pada pertengahan Januari 2021, hingga mengakibatkan 5 rumah warga rusak dan di tinggalkan penghuninya. 

" Tahun 2019 dan 2020 tidak ada pergerakan tanah, namun di awal tahun 2021 pergerakan tanah kembali terjadi," ucapnya.

Menurutnya, pergerakan tanah itu tidak seperti bencana longsor, namun tanah bergerak secara perlahan bergeser dan itu terlihat ketika rumah warga mengalami retak-retak dan miring.

"Untuk sekarang ini ada tiga dusun yang terdampak pergerakan tanah. Dengan total warga yang terdampak sekitar 250 kepala keluarga dan baru-baru ini warga yang terdampak pergerakan tanah, jumlah tersebut berada di  Kedusunan Citeureup ada sekitar 20 KK, Bojot sebanyak 100 rumah dan Garadaha sebanyak 150 rumah," terangnya.


Hingga sekarang Pihak pemerintahan desa tidak tinggal diam, dan terus  berupaya, melaporkan dan memberitahukan kepada pihak terkait setiap ada kejadian. 

"Sedangkan untuk bantuan relokasi baru untuk 24 KK. Sementara sebagian besarnya belum, sehingga masyarakat mengungsi mandiri," tuturnya.

Padahal, hasil kajian dan penelitian dari Badan Meteorologi, Klimatologi (BMKG) bahwa merekomendasikan untuk mengosongkan rumah-rumah tersebut tetapi masih ada juga warga yang memilih kembali. (Kris)


Editor: Suherlan
    Bagikan:  


Berita Terkait