Sengketa Burung Murai Rp 60 juta Antar Tetangga Berakhir Damai di Kantor Peradi Tasikmalaya

Jawa Barat —Kamis, 4 Feb 2021 21:12
    Bagikan:  
Sengketa Burung Murai  Rp 60 juta Antar Tetangga Berakhir  Damai di Kantor Peradi Tasikmalaya
Penggugat dan tergugat akhirnya islah dan berdamai di Kantor Peradi Tasikmalaya. (foto:kris)
POSKOTAJABAR, TASIKMALAYA.

Septhiana Virginandi (31), warga Perumahan Nangela, Kelurahan Cigantang, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, menggugat tetangganya sendiri bernama Yamin, (45), ke Pengadilan Negeri (PN) Kelas 1 A sebesar Rp 60 juta gara-gara burung murai batu miliknya tersebut mati diduga dari asap sampah yang di bakar.

Penggugat dan tergugat akhirnya Islah dan tidak akan melanjutkan kembali kasusnya tersebut di Pengadilan Negeri Kelas 1 A, Jalan Siliwangi, Kecamatan Tawang, Kota Tasikmalaya, itu berakhir damai dilakukan di Kantor Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi)Tasikmalaya.

Pemilik burung murai (Penggugat) Septhiana Virginandi, (31), mengatakan, pihaknya sudah sepakat dengan tergugat untuk berdamai dan tidak akan melanjutkan kasus ke Pengadilan Negeri dan ia pun meminta kepada tergugat untuk tidak melakukan pembakaran.

"Kami meminta agar tergugat tidak melakukan pembakaran sampah kembali yang berada di lingkungan halaman rumah, mengingat masih memiliki burung dan keluarga juga menderita penyakit sesak napas (Asma) termasuk saya. Karena, burung yang mati tersebut memang telah menjuarai tingkat nasional dan matinya itu gara- gara pembakaran sampah dilakukan oleh tetangga rumah," katanya, Kamis (04 /02/2021).


Sementara tergugat Yamin, (48), mengatakan, dirinya bersyukur kasus yang terjadi itu bisa diselesaikan dengan cara damai yang mana telah difasilitasi oleh Peradi Tasikmalaya dan tidak akan meneruskan ke tahapan proses sidang. Namun, memang sebelumnya tahapan untuk bertemu telah dilakukan oleh ketua RT dan RW tapi pengugat tetap melakukan upaya supaya sidang digelar tetapi sekarang islah dan berdamai.

"Kasus yang dialami saya sekarang ini sudah diselesaikan dengan cara damai dilakukannya di Kantor Peradi Tasikmalaya. Akan tetapi, dari proses mediasi yang dilakukan di rumahnya itu tetap penggugat ingin melanjutkan proses ke Pengadilan Negeri kelas 1A tapi sekarang berakhir untuk damai mengingat satu rumah dan satu tetangga harus saling mendekatkan silaturahmi tapi dengan kejadian sampah itu tidak akan dilakukan lagi," ujarnya.


BACA JUGA : Pemikul Jenazah Covid-19 TPU Cikadut Kota Bandung, Inilah Besarannya!

 

Perwakilan Peradi Tasikmalaya, Eki Sirojul Baehaqi mengatakan, pihaknya telah berupaya membantu tergugat dan penggugat terutama melakukan mediasi hingga keduanya sepakat untuk berdamai. Perdamaian yang dilakukan tersebut ada kesepakatan dan hasilnya akan diserahkan kepada Pengadilan Negeri Kelas 1 A sebagai bukti kasus sudah islah.

"Keduanya sudah dipertemukan dan berakhir damai tidak akan memperpanjang masalah itu dan kasus matinya burung murai sekarang ini berakhir. Karena, pemilik burung juga memang sudah mengikhaskannya dan tergugat tetap meminta supaya membakar sampah itu harus dilakukannya jauh dari lingkungan halaman rumahnya," pungkasnya.(Kris)



Editor: Suherlan
    Bagikan: