Bikin Kain Shibori, Mahasiswi Asal Jepara Ini Manfaatkan Kulit Kayu Mahoni dan Daun Ketapang

Gaya Hidup —Sabtu, 6 Feb 2021 16:58
    Bagikan:  
Bikin Kain Shibori, Mahasiswi Asal Jepara Ini Manfaatkan Kulit Kayu Mahoni dan Daun Ketapang
Nikmatul Hanik (23) mahasiswi Jurusan Managemen Marketing, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Nahdlatul 'Ulama (Unisnu,red) asal Jepara saat menunjukan kain Shibori buatan dirinya (foto: ist)

POSKOTAJABAR,PANGANDARAN
Bagi pegiat kesenian dan tekstil, istilah shibori bukanlah hal yang asing ditelinga. Kata kerja Shiboru yang berasal dari Jepang itu merupakan teknik pewarnaan kain yang mengandalkan ikatan dan celupan.  Namun, motif yang dihasilkan seringkali tak jauh berbeda dengan batik. Tak heran jenis kain yang satu ini acap kali disebut dengan 'batik' asal Jepang.

Di Kabupaten Pangandaran, salah seorang mahasiswi Jurusan Managemen Marketing, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Nahdlatul 'Ulama (Unisnu,red) bernama Nikmatul Hanik (23) membikin kain Shibori dengan memanfaatkan Sumber Daya Alam.

Hanik sapaan akrab Nikmatul Hanik warga Desa Sukosono RT 20/05 Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah itu berharap talentanya bisa bermanfaat dan menjadi keahlian bagi yang telah mengikuti pelatihan.

"Saya dengan sukarela akan mengajarkan cara membuat kain shibori dari bahan alam. Dan sasaran utama saya kami adalah peserta didik tingkat SLTA tepatnya di SMK Bakti Karya," ujarnya kepada POSKOTAJABAR, Jumat (05/02/2021).

Misi utama yang dia bawa, kata Hanik, adalah mengkampanyekan pemanfaatan sumber daya alam agar ramah lingkungan. Dan pembuatan warna untuk kain shibori sendiri berasal dari bahan kulit kayu mahoni dan daun ketapang yang dieksstrasi dengan cara direbus.

"Untuk pembuatan kain shibori itu membutuhkan waktu sekitar dua hari, mulai dari proses pengerjaan hingga menjadi sebuah kain yang layak untuk digunakan," katanya.


Menurut dia, dari eksstrasi itu menghasilkan zat asam dan penguncian warna menggunakan zat basah yang diperoleh dari tawas atau tunjung dan kapur sirih.

"Untuk satu kain shibori berukuran 200 centi meter ke 50 centi meter menelan modal Rp 80 ribu. Sedangkan harga pasaran untuk satu lembar kain shibori mencapai Rp.200 ribu," tambahnya.

Hanik menyebutkan, kain shibori sangat ramah lingkungan karena limbah sisa produksi tidak merusak tanah. 

"Shibori ini berbeda dengan kain yang diproduksi menggunakan bahan sintesis," ucap Hanik.




Sementara itu, sambung Hanik, dirinya akan melakukan pelatihan secara gratis bagi peserta didik yang di mulai dari hari Rabu, (10/01/2021) sampai denga Sabtu, (20/03/2021) mendatang.

"Target saya bukan finansial, namun memberikan pemahaman dan kesadaran kepada peserta untuk memanfaatkan potensi alam," tutupnya. (dry)





Editor: Suherlan
    Bagikan: