Hidayat Nur Wahid Meminta Polisi Terbuka Perihal Penyebab Meninggalnya Ustadz Maaher At-Thuwailibi

Jawa Barat —Senin, 8 Feb 2021 23:46
    Bagikan:  
Hidayat Nur Wahid Meminta Polisi Terbuka Perihal Penyebab Meninggalnya Ustadz Maaher At-Thuwailibi
Hidayat Nur Wahid. (foto:dok)



POSKOTAJABAR, JAKARTA.

Kabar meninggalnya Ustadz Maaher At-Thuwailibi kini ramai di media sosial (medsos). Salah satunya Wakil Ketua MPR Hidayat Nur Wahid yang ikut angkat suara.

Seperti diketahui, Ustadz Maaher At-Thuwailibi meninggal dunia di rutan Mabes Polri, Senin (8/2/2021). Ustadz Maaher meninggal dalam kondisi sakit.

Hidayat Nur Wahid angkat suara perihal meninggalnya Ustadz yang terkenal ‘vokal’ itu melalui media sosial pribadinya.

 

BACA JUGA : 5 Olahraga Ringan Bantu Atasi Stres dan Bersihkan Pikiran

 

Melalui akun Twitter-nya, @hnurwahid, politisiPartai Keadilan Sosial (PKS) itu meminta pihak Kepolisian untuk terbuka atas penyebab meninggalnya Ustadz Maaher di Rutan Bareskrim Polri.

Lebih lanjut, menurut Hidayat Nur Wahid, keterbukaan Polri sangat penting agar tidak menimbulkan fitnah di masyarakat.

"Ustadz Maaher wafat di rutan Mabes Polri. Innaalilahiwainnaailaihi rajiun. Agar tak jadi fitnah, penting pihak kepolisian memberikan penjelasan terbuka (transparan) dan profesional soal sebab wafatnya Ustadz Maaher," tulis Hidayat Nur Wahid, dikutip Senin (8/2/2021) malam WIB.

 





BACA JUGA : Mayat Gadis Tertusuk Bambu di Garut Ternyata Korban Pembunuhan Pacarnya

 

 

Ustadz Maaher ditetapkan sebagai tersangka karena diduga telah melakukan penghinaan terhadap Habib Luthfi. Ustadz Maaher juga dilaporkan Nahdlatul Ulama (NU) lewat pengacaranya Muannas Alaidid. Cuitan Ustadz Maaher "cantik pakai jilbab kaya kiai Banser" dengan memasang foto Habib Luthfi, dianggap menghina kiai NU Habib Luthfi bin Yahya.

Dia dijerat Pasal 45 ayat (2) Juncto Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara. (dwa)

Editor: Dikki
    Bagikan: