Jenis Masker agar Sehat saat Pandemi, Ini Rekomendasi Para Ahli

Gaya Hidup —Kamis, 11 Feb 2021 15:02
    Bagikan:  
Jenis Masker agar Sehat saat Pandemi, Ini Rekomendasi Para Ahli
ilustrasi foto :Imc.id
POSKOTAJABAR, BANDUNG


Beberapa waktu lalu beberapa pakar kesehatan menyarankan penggunaan dua masker karena virus varian baru lebih mudah menyebar versi virus sebelumnya.

Sebagian mereka berpendapat, orang yang sebaiknya menghindari masker bedah, atau masker kain setelah masker bedah atau masker N95 yang dipakai dengan baik.

Ketua Terpilih PB IDI sekaligus Ketua Tim Mitigasi COVID-19 PB IDI, Dr. Muhammad Adib Khumaidi saat ini tidak mengajarkan penggunaan masker kain karena ketiadaan fungsi filtrasi.



"Kami tidak peduli masker kain karena fungsi filternya tidak ada. (Kita) harus melihat kondisi kita berada, kalau sebagai tenaga medis memang diminta N95. Ini pun tidak boleh dipakai terus menerus," kata Adib dalam sebuah webinar yang digelar Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi.

Peringatan masker bedah atau peringatan tidak boleh digunakan lebih dari 4-5 jam karena fungsi perlindungannya bisa menurun seiring waktu pemakaian.

Masker yang menghalangi partikel air liur yang keluar dari mulut dan hidung. Partikel-partikel ini dapat membawa virus SARS-CoV-2 dari satu orang ke orang lain, jadi memakai masker membantu untuk penularan itu.

Dari sisi perlindungan, N95 diketahui lebih baik, setidaknya 95 persen partikel kecil di udara, termasuk partikel berdiameter tiga persepuluh mikron, menurut Scientific American.




Masker kain melindungi orang lain dengan menjaga partikel-partikel itu keluar dari udara sekaligus melindungi pemakainya agar tetesan infeksi di udara tidak mencapai hidung atau mulut.

Sementara itu, masker bedah menawarkan lebih sedikit partikel, tetapi lebih banyak perlindungan bagi pemakainya masker kain satu lapis, menurut tinjauan studi dalam jurnal The Lancet pada Juni 2020.

Ketua Umum Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI) sekaligus epidemiolog Universitas Hasanuddin, Prof.Dr. Ridwan Amiruddin mengatakan, pada prinsipnya perlindungan masker kain tiga lapis (dengan tingkat kerapatan benang tinggi) tidak salah.

Dalam beberapa kasus, masker kain berkualitas lebih tinggi ini dapat menyaring hampir 50 persen partikel halus yang berdiameter kurang dari 1 mikron. Virus corona sendiri berdiameter sekitar 0,1 mikron dan dapat dibawa ke dalam aerosol yang berukuran lebih kecil dari 5 mikron dan tetesan yang lebih besar .


Untuk masyarakat umum, menempatkan masker kain setelah masker bedah mungkin merupakan pilihan terbaik, menurut Popular Science.

Scott Segal dari Thomas H. Irving Profesor dan Ketua Departemen Anestesiologi di Wake Foesrt Baptist Health, Winston-Salem, North Carolina seperti dikutip dari Health menyebutkan, ide penggunaan dua masker masuk akal jika kemampuan filtrasi satu masker tidak terlalu kuat.
Editor: Resti
    Bagikan:  


Berita Terkait