DPR Bereaksi Keras, Ditemukannya Situs Pornografi pada Buku Pelajaran Sosiologi SMA

Jawa Barat —Jumat, 12 Feb 2021 19:28
    Bagikan:  
DPR Bereaksi Keras, Ditemukannya Situs Pornografi pada Buku Pelajaran Sosiologi SMA
Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda, meminta Kemendikbud untuk meningkatkan pengawasan aktivitas penerbitan. (dpr.go.id)

POSKOTAJABAR, JAKARTA.  

DPR RI bereaksi keras, setelah ditemukannya tautan situs pornografi pada buku pelajaran sosiologi jenjang SMA. Ketua Komisi X DPR RI, Syaiful Huda, meminta Kemendikbud untuk meningkatkan pengawasan aktivitas penerbitan di lingkungan sekolah. 

"Kemendikbud itu punya Sistem Informasi Perbukuan Indonesia yang harusnya mengawasi aktivitas penerbitan di lingkungan sekolah termasuk buku ajar. Harusnya, hal itu dimaksimalkan sehingga buku-buku ajar yang beredar di sekolah tidak lagi memuat hal-hal kontroversial seperti masuknya tautan pornografi pada buku pelajaran yang bisa memberikan dampak negatif kepada peserta didik," kata Huda kepada wartawan, Jumat (12/02/2021).

BACA JUGA:  Tahun 2014 Sudah Ditutup, Yayasan SKKS Prihatin Situs Kalangsundanet Jadi Berisi Pornografi

Politisi PKB ini menjelaskan, kasus adanya link porno pada buku Sosiologi SMA di Jawa Barat, bukanlah kasus pertama pemuatan hal terlarang ke buku ajar siswa di Tanah Air. Sebelumnya, pada tahun 2014, muncul pemberitaan tentang Buku Pendidikan Jasmani untuk kelas XI yang mengajarkan tentang cara dan gaya berpacaran.

Tema bab tersebut adalah “Memahami Dampak Seks Bebas”. Dijelaskan, pula tentang gaya pacaran yang sehat yaitu sehat fisik, sehat emosional, sehat sosial, dan sehat seksual.

"Selain itu, pernah juga muncul hal kontroversial di buku ajar Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti kelas XI SMA dimana ditemukan muatan yang membolehkan membunuh orang musyrik," katanya.

Selain banyak muncul hal kontroversial di buku ajar, kata Huda, banyak hal berbau politis yang masuk ke soal-soal ujian di sekolah. Kasus terbaru adalah munculnya nama Ganjar yang identik dengan nama Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, di dalam soal buku Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti terbitan PT Tiga Serangkai tahun 2020.

Dalam buku itu, ada soal yang menggambarkan Ganjar tidak pernah bersyukur, setiap Idul Adha tidak pernah berkurban dan tidak pernah salat. Sebelumnya, juga muncul nama Megawati dan Anies dengan framing menyudutkan satu pihak dalam soal ujian bagi siswa di DKI Jakarta.

BACA JUGA:  Anak dan Lansia Rentan Tertular Covid-19, Vaksin Sinovac Buat Anak dan Lansia Belum Ada

Ia menilai, fakta-fakta tersebut menunjukkan jika memang ada kelemahan pengawasan terkait penerbitan buku ajar maupun soal ujian bagi peserta didik di Indonesia. Kondisi tersebut harusnya menjadi fokus bagi Kemdikbud untuk memperbaikinya ke depan. Koordinasi dengan Dinas Pendidikan, Forum Guru Bidang Studi, hingga penerbitan harus dilakukan sebelum satu buku ajar atau soal ujian dirilis ke peserta didik.

"Tentu hal itu berat dilakukan. Namun, dengan digitalisasi pengawasan dan layanan hal itu akan bisa dilakukan ke depan. Selain itu, peningkatan kapasitas tenaga kependidikan sebagai salah satu sumber penulisan harus juga dilakukan. Sehingga, mereka bisa meletakkan cara pandang sebagai pendidik. Bukan sebagai individu yang punya afiliasi politik atau ideologi," tegasnya. (rizal/tha)

Editor: Setiawan
    Bagikan:  


Berita Terkait