Catatan Tanggal 17 Februari, Lahirnya Buya Hamka, Ulama Sekaligus Sastrawan Indonesia

Gaya Hidup —Rabu, 17 Feb 2021 08:50
    Bagikan:  
Catatan Tanggal 17 Februari,  Lahirnya Buya Hamka, Ulama Sekaligus Sastrawan Indonesia
Buya Hamka dikenal sebagai seorang Ulama sejuk (Foto: www.suaramuhammadiyah.id)

PROF. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama Hamka, lahir di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, pada 17 Februari 1908 atau tepat hari ini 113 tahun yang lalu. Ia adalah seorang ulama sekaligus sastrawan Indonesia, wartawan, penulis, dan pengajar

Ia pun sempat terjun dalam politik melalui Masyumi, hingga akhirnya partai tersebut dibubarkan. Sejarah pun mencatat beliau juga adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan aktif dalam organisasi Muhammadiyah sampai akhir hayatnya.

Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia pun menganugerahinya gelar doktor kehormatan, sementara Universitas Moestopo, Jakarta mengukuhkan Hamka sebagai guru besar. Namanya disematkan untuk Universitas Hamka milik Muhammadiyah dan masuk dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia.

Sebagai seorang penulis, beliau juga telah banyak melahirkan karya literasi semasa hidupnya,  setidaknya ada 94 kumpulan karya Hamka. Belakangan beliau juga diberikan sebutan Buya, yaitu panggilan untuk orang Minangkabau yang berasal dari kata abi, abuya dalam bahasa Arab, yang berarti ayahku, atau seseorang yang dihormati.

BACA JUGA:  Hari Ini ! KPU Bakal Tetapkan Paslon Juara Sebagai Pemenang Pilkada Pangandaran 2020

Buya Hamka merupakan anak sulung dari empat bersaudara dalam keluarga ulama Abdul Karim Amrullah dari istri keduanya Siti Shafiah. Keluarga ayahnya adalah penganut agama yang taat. Abdul Karim Amrullah yang berjulukan Haji Rasul dikenang sebagai ulama pembaharu Islam di Minangkabau dan sangat terkenal dengan keberaniannya untuk tidak memberikan hormat kepada penjajah Jepang Kala itu.

Pada tanggal 5 April 1929, Hamka dinikahkan dengan Siti Raham binti Endah Sutan, yang merupakan anak dari salah satu saudara laki-laki ibunya. Dari perkawinannya dengan Siti Raham, ia dikaruniai 11 orang anak. Mereka antara lain Hisyam, Zaky, Rusydi, Fakhri, Azizah, Irfan, Aliyah, Fathiyah, Hilmi, Afif, dan Syakib. Setelah istrinya meninggal dunia, satu setengah tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1973, ia menikah lagi dengan seorang perempuan bernama Hj. Siti Khadijah.

Buya Hamka, mendirikan cabang Muhammadiyah di Padang Panjang dan mengetuai cabang Muhammadiyah tersebut pada tahun 1928. Pada tahun 1931, ia diundang ke Bengkalis untuk kembali mendirikan cabang Muhammadiyah. Dari sana ia melanjutkan perjalanan ke Bagansiapiapi, Labuhan Bilik, Medan, dan Tebing Tinggi, sebagai mubaligh Muhammadiyah.

Pada tahun 1932 ia dipercayai oleh pimpinan Muhammadiyah sebagai mubaligh ke Makassar, Sulawesi Selatan. Ketika di Makassar, sambil melaksanakan tugasnya sebagai seorang mubaligh Muhammadiyah, ia memanfaatkan masa baktinya dengan sebaik-baiknya, terutama dalam mengembangkan lebih jauh minat sejarahnya. Ia mencoba melacak beberapa manuskrip sejarawan muslim lokal.

Bahkan ia menjadi peneliti pribumi pertama yang mengungkap secara luas riwayat ulama besar Sulawesi Selatan, Syeikh Muhammad Yusuf al-Makassari. Bukan itu saja, ketika di Makassar ia juga mencoba menerbitkan majalah pengetahuan Islam yang terbit sebulan sekali. Majalah tersebut diberi nama “al-Mahdi”.

BACA JUGA: Google Doodle Hari Ini Tampilkan Gambar Marie Thomas, Siapakah Dia?

 Hamka Menjadi Tahanan Politik

Melalui rubrik Tasawuf modern, tulisannya telah mengikat hati para pembacanya, baik masyarakat awam maupun kaum intelektual, untuk senantiasa menantikan dan membaca setiap terbitan Pedoman Masyarakat. Pemikiran cerdas yang dituangkannya di ‘Pedoman Masyarakat’ merupakan alat yang sangat banyak menjadi tali penghubung antara dirinya dengan kaum intelektual lainnya, seperti Natsir, Hatta, Agus Salim, dan Muhammad Isa Anshary.

Pada tahun 1949, Hamka memutuskan untuk meninggalkan Padang Panjang untuk menuju Jakarta. Di sana, ia menekuni dunia jurnalistik dengan menjadi koresponden majalah Pemandangan dan Harian Merdeka. Ia kemudian mengarang karya otobiografinya, Kenang-Kenangan Hidup pada tahun 1950. Di samping itu, ia juga aktif di kancah politik dengan Masyumi.

Lalu pada awal 1960-an rezim Sukarno mulai bersikap keras terhadap lawan-lawan politiknya. Partai Masyumi dan Partai Sosialis Indonesia (PSI) dipaksa membubarkan diri akibat keterlibatan tokoh-tokoh mereka dalam Pemeritahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Sementara itu PKI semakin akrab dengan kekuasaan.

Lalu, Pada 27 Januari 1964, Buya Hamka ditangkap di rumahnya dan kemudian dibawa ke Sukabumi untuk ditahan. Tuduhannya tak main-main: melanggar undang-undang Anti Subversif Pempres No. 11. Ia dituding merencanakan pembunuhan terhadap Sukarno—suatu prasangka yang lebih mudah dinalar sebagai aksi politik penguasa ketimbang murni keputusan hukum.

Hamka pun memberi kesaksian bagaimana beratnya pemeriksaan ketika itu. Ia diperiksa selama 15 hari 15 malam. Tapi tak ada yang lebih memedihkan hatinya selain ucapan seorang pemeriksa: ”Saudara pengkhianat, menjual negara kepada Malaysia!”

BACA JUGA:  Terkait Anggaran Refocusing Covid-19, KomisI II DPRD Cimahi Sudah Ajukan Rapat Evaluasi

Buya Hamka pun ditahan selama 2 tahun 4 bulan. Dalam beberapa kesempatan, Buya Hamka justru bersyukur dengan kejadian itu. Setelah peristiwa 1965 dan berdirinya pemerintahan Orde Baru, Hamka secara pun total menekuni jalan dakwah.

Ia meninggalkan dunia politik dan sastra. Tulisan-tulisannya di Panji Masyarakat sudah merefleksikannya sebagai seorang ulama, dan ini bisa dibaca pada rubrik Dari Hati Ke Hati yang sangat bagus penuturannya.

Buya Hamka dikenal sebagai seorang Ulama sejuk. Tidak pernah beliau mengeluarkan kata-kata keras, apalagi kasar dalam setiap komunikasinya. Beliau lebih suka memilih menulis roman atau cerpen dalam menyampaikan pesan-pesan moral Islam.

Lalu pada tanggal 24 Juli 1981 Buya Hamka tutup usia. Jasa dan pengaruhnya masih terasa hingga kini, tertama dalam perjuangan Syiar Islam dan Kesusastraan. (ES)

Editor: Edi
    Bagikan:  


Berita Terkait