Sejarah 18 Februari: Dua Orang Wartawan Indonesia Disandera di Irak

Gaya Hidup —Kamis, 18 Feb 2021 10:28
    Bagikan:  
Sejarah 18 Februari: Dua Orang Wartawan Indonesia Disandera di Irak
Dua orang wartawan disandera di Irak (Foto: Instagram @meutya_hafid)

Jumat 18 Februari 2005, atau tepat hari ini 16 tahun yang lalu, beredar sebuah tayangan video yang memperlihatkan 2 wartawan TV Indonesia didampingi dua orang pria bersenjata.

Suara dalam rekaman itu mengatakan bahwa kedua orang itu berada di tangan Kelompok Mujahidin Irak. Rekaman video yang diterima Associated Press Television News menayangkan gambar reporter dari salah satu stasiun televisi di Indonesia, Meutya Hafidz dan juru kamera Budiyanto di bawah sinar matahari, sambil memegang paspor dan ID Card stasiun TV.

Dalam paspor tersebut tertulis nama Meutya Hafid (26) dan Budiyanto (38). Meutya dan Budiyanto mengenakan jaket warna hitam. Sementara kedua pria yang berada di samping kiri kanan mereka membawa senapan otomatis. "Kami sedang menyelidiki alasan mereka di negara ini. Kami meminta pemerintah Indonesia untuk mengklarifikasi status mereka dan mengatakan kepada kami alasan mereka berada di negeri ini. Jika tidak jiwa mereka terancam," ujar suara dalam rekaman itu.

Permintaan ini langsung dipenuhi, selepas tengah malam, sekitar jam 1 malam Sabtu melalui dua stasiun televisi berjaringan internasional APTN dan Aljazeera, Presiden Susilo Bambang Yudhyono (SBY) memberikan konfirmasi terhadap keberadaan kedua wartawan Indonesia itu. Bahwa kedua jurnalis itu sedang menjalankan tugas yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan kepentingan politik yang terjadi di Irak.

Kedua reporter itu dilaporkan hilang tiga hari sebelum tayangan videonya beredar. Menurut saksi mata, mobil mereka dihadang pria berseragam militer di dekat kota Ramadi, yang berada 150 kilometer barat Baghdad, saat akan meliput peristiwa asyura di kota Karbala, kota suci bagi umat Syiah di Irak.

Atas nama pemerintah dan rakyat Indonesia, Presiden SBY kala itu pun meminta agar kedua wartawan Indonesia itu dibebaskan karena tidak mempunyai kepentingan politik dengan yang terjadi di Irak. Pemerintah kata Presiden akan mengupayakan berbagai cara untuk pembebasan kedua wartawan Indonesia ini. Salah satunya adalah dengan jalur diplomasi dengan membentuk tim penanggulangan krisis, kata juru bicara Departemen Luar Negeri kala itu, Marty Natalegawa.

Selain jalur diplomasi, pemerintah juga meminta bantuan kepada mantan Presiden Abdurahman Wahid yang dikenal mempunyai pengaruh di Irak agar memberikan himbauan kepada faksi Mujahidin Irak. Langkah ini dilakukan, karena meniru keberhasilan saat membebaskan dua orang TKW Indonesia yang pernah disandera di Irak.

Selain itu, himbauan beberapa tokoh agama Islam seperti ketua Majelis Mujahidin Indonesia, Abu Bakar Ba'asyir yang menyatakan bahwa pemerintah dan media di Indonesia selalu mendukung perjuangan rakyat Irak.

Ibunda Meutya, Meti Hafid pun atas nama keluarga dan persaudaraan Islam meminta agar putrinya itu dibebebaskan. Menurut Meti, putri bungsunya sempat menelepon pada 15 Februari pada pukul 10.00 WIB. Dalam percakapan tersebut, Meutya memberi kabar dirinya bersama Budiyanto kembali berangkat ke Baghdad untuk melakukan peliputan. Wanita kelahiran Bandung ini juga mengabarkan akan kembali ke Indonesia pada tanggal 25 Februari.

Dua wartawan tersebut berada di Irak, dalam rangka tugas untuk meliput pelaksanaan pemilihan umum di negara yang sedang konflik itu. Bagi Budiyanto, liputan ke Irak adalah bukan yang pertama kali. Bahkan sudah tiga kali. Sebelumnya, Budiyanto juga pernah meliput suasana di Kota Baghdad sebelum agresi militer Amerika Serikat pada 2003. Saat itu, Budiyanto pergi bersama Desi Anwar.

Lalu, kabar melegakan pun datang dari Ramadi, Irak. Dua wartawa itu pun akhirnya dibebaskan. Pembebasan diketahui dari sebuah rekaman video yang ditayangkan Associated Press Television News (APTN) dan Televisi Al Arabiya, pada hari Senin 21 februari siang waktu setempat.

Dalam rekaman itu terlihat Meutya dan Budiyanto bersalaman dengan para penculik. Keduanya juga diberikan masing-masing sebuah Alquran, pena, dan peci haji. Budiyanto terlihat mencium Alquran tersebut. Sementara Meutya yang mengenakan syal berusaha tersenyum meski tampak pucat.

Pada rekaman itu juga terdengar suara seorang militan Irak yang mengatakan, pembebasan Meutya dan Budiyanto tanpa syarat atau pun tebusan. Dia menambahkan, pembebasan juga wujud untuk menghormati persaudaraan sesama muslim. Namun APTN tak dapat memastikan kapan rekaman video itu dibuat dan tak dapat mengkonfirmasikannya secara independen. Sebelum mendapatkan rekaman ini. (ES)

Editor: Edi
    Bagikan:  


Berita Terkait