Warga Antusias Ikut Program Nabung Sampah Jadi Emas Melalui Bank Resik

Jawa Barat —Jumat, 19 Feb 2021 10:43
    Bagikan:  
Warga Antusias Ikut Program Nabung Sampah Jadi Emas Melalui Bank Resik
Program menabung sampah jadi emas dari PD Kebersihan Kota Bandung, mendapatkan respon positif dari masayarakat. (Humas Pemkot Bandung)

POSKOTAJABAR, BANDUNG

Program terbaru dari PD Kebersihan Kota Bandung yakni menabung sampah jadi emas, mendapatkan respon positif dari masayarakat.

Meski belum secara resmi diluncurkan, namun warga sudah antusias untuk mengikuti program ini.

Hingga saat ini, Bank Sampah Resik PD Kebersihan Kota Bandung pun terus menyosialisasikan kepada para nasabah. Bahkan, Bank Resik telah mengeluarkan hingga 108 keping emas mini untuk para nasabahnya, terhitung sejak bulan Desember 2020 lalu.

Salah indikator bahwa program ini direspon positif oleh masyarakat, bisa terlihat dari semakin bersemangatnya warga mendapatkan emas mini dengan nilai 0,025 sampai 1 gram dari hasil penukaran sampah yang telah dipilah.

BACA JUGA: Polri akan Mengedepankan Restorative Justice dalam Penerapan Pasal Undang-Undang ITE

Direktur Bank Sampah Resik, Marina Puspita, mengatakan, pada awal program menabung sampah jadi emas ini diperkenalkan kepada para nasabah.

 Awalnya banyak yang tidak percaya, kalua emas tersebut merupakan emas asli.

"Jadi pas kita sodorin emas itu, banyak yang bertanya ini emas asli atau bukan? Karena ini emas mini kan," katanya saat ditemui di Bank Sampah Resik, Jalan Babakansari 1 No. 64, Kota Bandung.

"Kita kampanyenya juga cukup Rp40 ribu bisa dapat emas. Jadi akhirnya banyak juga yang antusias," lanjutnya.

Menurut Marina, pihaknya lebih menyasar para ibu rumah tangga sebagai sasaran utama dalam program ini.

Bank Sampah Resik juga menerima penukaran emas untuk diuangkan atau ditukar ke gramasi yang lebih tinggi.

"Kalau ada yang punya 0,1 gram 10 keping, bisa juga ditukar dengan 1 gram. Atau mau jual lagi juga bisa kita menerima untuk diuangkan juga," ucapnya.

Marina menjelaskan, untuk menjadi nasabah di Bank Sampah Resik ada dua proses, yakni nasabah individu atau nasabah unit yang mempunyai kepengurusan minimal 10 orang.

BACA JUGA:  style="color: #0000ff;">Kapolri Mengakui Polri Belum Memberi Izin Penyelenggaraan Kompetisi Liga Indonesia, Fokus Pandemi Covid-19

"Untuk individu bisa mendaftar langsung ke sini, bawa satu kilogram sampah sudah bisa menjadi nasabah, tinggal nanti menabung saja.

Bisa ikut juga program nabung sampah jadi emas itu," ucapnya.

"Kalau yang unit, itu juga kita free pengangkutan sampah kalau di atas 20 kilogram sampai 50 kilogram kita terima," lanjutnya.

Sedangkan untuk sampah yang diterima, rata-rata Bank Sampah Resik menerima dus, PET (Botol plastik) bersih dan kotor, gelas minuman, macam-macam plastik, kresek, botol kaca hingga arsip.

"Tetrapak atau bungkus minuman susu yang kotak, kaleng, tembaga, botol kecap, kita terima, dengan harga yang sudah ditentukan juga," ucap Marina.

Ia mengungkapkan, antusiasme warga yang tertarik terhadap program nabung sampah jadi emas ini, tak hanya dilirik oleh warga Kota Bandung saja, ada pula warga dari luar Kota Bandung yang tertarik dan ingin menjadi nasabah.

 Namun pihaknya hanya menerima dari Kota Bandung saja.

BACA JUGA: Dalam Pusaran Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan Syiah Dimana Jalaludin Rakhmat Berada?

"Kalau kota yang lain mungkin bisa mengadopsi program ini juga, tapi memang program kita khusus di Kota Bandung saja.

Bahkan ada juga dari daerah lain yang sampai mau ngekargoin (mengirimkan) sampahnya," katanya.

Sementara itu, salah seorang warga, Bambang Ismono mengatakan program dari PD Kebersihan Kota Bandung tersebut sangat bagus, karena nilai emas cenderung naik dalam dua atau tiga tahun mendatang.

"Kalau hanya uang, biasa-biasa saja. Kalau emas, bisa saja nilainya naik. Meski pun harganya naik turun, tapi cenderungnya naik dalam 2-3 tahun dan itu yang diharapkan," katanya.

Warga Jalan Turangga Barat tersebut mengaku awalnya tertarik menjadi nasabah Bank Sampah Resik karena menilai sampah memang jadi permasalahan tersendiri. Ia berharap sampah juga memiliki nilai tambah agar tidak terbuang begitu saja.

"Jadi dari problem itu sebetulnya ada peluang. Kalau kita tidak bisa mengolahnya sendiri kan sayang. Saya berpikir bagaimana caranya sampah jadi nilai tambah buat kita," katanya.

"Walau pun sebetulnya suka ada tukang rongsok yang suka ngumpulin, tapi kadang mereka harganya dihitung rata. Kalau di sini dipilah itu beda harga sebetulnya," ucapnya. (ES)

BACA JUGA: Wisata Istana Ular di Labuan Bajo, Goa di Penuhi Ular Bikin Merinding di Manggarai Barat

Editor: Edi
    Bagikan:  


Berita Terkait