Ini Dia 5 Fakta Unik Tentang Kabupaten Bandung Barat yang Belum Banyak Diketahui

Gaya Hidup —Jumat, 19 Feb 2021 11:52
    Bagikan:  
Ini Dia 5 Fakta Unik Tentang Kabupaten Bandung Barat yang Belum Banyak Diketahui
(Foto: www.bandungbaratkab.go.id)

POSKOTA JABAR, BANDUNG

Banyak dari kita pasti sudah tidak asing lagi dengan objek wisata Lembang, atau Kota Baru Parahyangan. Tapi tak sedikit orang yang keliru, dan mengira kalau lokasi tersebut berada di kota Bandung. Lokasi tersebut itu berada di kawasan Kabupaten Bandung Barat (KBB).

Kabupaten Bandung Barat berdiri sejak tahun 2007, setelah adanya pemekaran dari kabupaten Bandung. Daerah dengan jumlah penduduk yang kurang lebih mencapai 1,7 juta jiwa ini dikelilingi oleh wilayah perbukitan di bagian utara dan selatan, yang kemudian menjadikan KBB menjadi daerah tujuan wisata.

Daerah yang terdiri dari 16 kecamatan dan 165 desa ini memiliki fakta-fakta unik, dan diantara banyaknya fakta unik tentang KBB. Untuk saat ini Poskota Jabar akan membagikan 5 fakta unik tentang Kabupaten Bandung Barat.

BACA JUGA: Manusia Pawon, Makhluk Pertama di Tatar Sunda?

Hari Jadi KBB

Sampai dengan tahun 2012 atau 5 tahun sejak berdirinya, KBB memperingati hari jadinya setiap tanggal 2 Januari. Namun terhitung mulai tahun 2013, KBB memperingati hari jadinya pada tanggal 19 Juni. Hal ini terjadi kerena adanya kajian ulang mengenai hari jadi KBB. Kajian ulang itu dilaksanakan karena pada 2 Januari 2007, KBB memang sudah terbentuk, tapi untuk urusan administrasi surat menyurat pemerintahan masih ditanda tangani oleh Bupati Bandung, yang saat itu dijabat oleh Obar Sobarna. Dan tepat pada tanggal 19 Juni 2007, urusan administrasi surat menyurat yang menyangkut pemerintahan sudah mulai ditanda tangani oleh Pjs Bupati KBB Tjatja Kuswara. Hal itu lah yang menguatkan argument bahwa hari jadi KBB jatuh pada tanggal 19 Juni 2007.

Maroko dan Singapura

Di KBB ini terdapat penduduk Maroko dan Singapura, tapi hati-hati jangan terkecoh. Maroko dan Singapura di sini bukan nama Negara, melainkan nama kampung. Kampung Maroko teletak di Desa Mekar Jaya, Kec.Cihampelas. Belum diketahui sampai saat ini, dari mana asal mula penamaan kampung yang sama dengan Negara di Afrika Utara ini. Sedangkan kampung Singapura terletak di Desa Sumur bandung, Kec.Cipatat. Sama seperti Maroko, sejarah penamaan kampung Singapura pun belum diketahui dari mana asal mulanya.

BACA JUGA: Resep Makanan Enak, Brownies Coklat Panggang Toping Suka-suka

Pertigaan Beatrix

Pertigaan Beatrix adalah persimpangan antara jalan raya Lembang dan jalan Kolonel Masturi. Jika anda akan menuju Lembang dari arah Bandung dan Cimahi atau sebaliknya, sudah dapat  dipastikan anda akan melewati pertigaan ini. Ada pendapat nama Beatrix, mengacu kepada nama Ratu yang memerintah negeri Belanda pada tahun 1980 – 2013. Namun pendapat ini diragukan, karena Queen Beatrix memerintah Belanda jauh setelah Indonesia merdeka. Dan pertigaan Beatrix sudah dikenal jauh sebelum Ratu tersebut menjabat. Tapi misteri nama ini sedikit menemukan titik terang, setelah pemerhati sejarah  Lembang Heritage, Antonius Jansz menanyakan hal tersebut kepada Ayahnya Billy Jansz. Menurut Billy, pertigaan Beatrix mulai terkenal di masyarakat, karena dulu persis di pertigaan tersebut terdapat sebubah Villa yang bernama Beatrix.

Makam Otto Iskandardinata

Otto Iskandandinata atau Si Jalak Harupat, adalah Pahlawan Nasional Indonesia yang berasal dari Bojong soang kabupaten Bandung. Nama Otto Iskandardinata banyak diabadikan sebagai nama jalan di beberapa kota di Idonesia, bahkan wajahnya sempat diabadikan dalam uang pecahan 20 ribu rupiah. Makam Otto Iskandardinata berada di Jalan Raya Lembang, tepatnya di kampung Pasir Pahlawan. Tapi makam tersebut bukan lah tempat jasad Otto Iskandardinata disemayamkan, melainkan itu hanya sebuah simbol. Karena sampai saat ini tidak diketahui dimana jasad Si Jalak Harupat itu berada.

Perang Tomat

Bukan hanya Spanyol yang mempunyai budaya perang tomat, di KBB pun ada budaya ini. Tepatnya di Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang, Kec.Lembang, di sana juga selalu digelar acara perang tomat pada bulan Agustus atau Sepetember setiap tahunnya. Adanya acara ini bermula dari banyak tomat busuk yang berserakan di jalan. Hal ini disebabkan karena, pada waktu itu harga tomat sedang turun drastis, karena itu lah para petani tomat enggan menjual hasil panennya. Dan akibatnya ribuan tomat banyak berserakan di jalanan. Dari peristiwa itu lah tercetus ide budaya perang tomat, yang sudah digelar sejak tahun 2010 lalu. Perang tomat adalah salah satu rangkaian acara ‘Hajat Lembur’, warga setempat berharap dengan adanya budaya ini, diharapkan bisa menjadi daya tarik wisata budaya di desa mereka khusunya dan di KBB pada umumnya. (ES)

BACA JUGA: Asal Muasal Kerupuk di Indonesia, Penganan yang Setia Menjadi Teman Makan

 

 

 

Editor: Edi
    Bagikan:  


Berita Terkait