Jasmine Integrated Farming, Sebuah Kawasan Integrasi Pengolahan Sampah dengan Budidaya Tanaman dan Hewan

Pendidikan —Senin, 22 Feb 2021 07:47
    Bagikan:  
Jasmine Integrated Farming, Sebuah Kawasan Integrasi Pengolahan Sampah dengan Budidaya Tanaman dan Hewan
Kelompok Berkebun di RW 19 Kelurahan Antapani Tengah, Kota Bandung. (Humas Pemkot Bandung)
POSKOTAJABAR, BANDUNG.

Jasmine Intigrated Farming merupakan kawasan pertanian integrasi yang berada di RW 19 Kelurahan Antapani Tengah. Di sana, terdapat tempat pengolahan sampah organik, buruan sae, budidaya ikan, budidaya ayam petelur, dan lainnya. Ada pula warga kelompok berkebun. Berbagai macam tanaman dan hewan kebutuhan sehari-hari ada. 

Dikatakan terintegrasi karena seluruh kegiatan di Jasmine Intigrated Farming saling berhubungan satu sama lain. Dari awal pengolahan sampah hingga menghasilkan, baik itu tanaman atau produk hewani, terintegrasi. Hal ini, yang membuat sampah dari masyarakat dapat dikelola dengan maksimal dan dirasakan manfaatnya. 

Ketua RW 19, Dodi Iriana, menjelaskan, Jasmine Intigrated Farming didirikan atas gagasan warga untuk memanfaatkan lahan. Setelah itu, dibentuk kawasan khusus untuk pengolahan sampah, Kang Pisman, yang didominasi oleh ibu-ibu. "Lahan di RW 19 ini tiga tahun yang lalu merupakan hutan kota. Lama tidak terurus, sehingga banyak binatang liar seperti ular besar. Kemudian warga sepakat bergotong royong untuk kepetingan warganya sendiri," ungkap Dodi, saat ditemui di RW 19 Kelurahan Antapani Tengah. 


Ketua Kelompok Jasmine, Eni Yuningsih, menjelaskan, masyarakat sangat antusias dengan program ini. Apalagi semenjak ada Virus Covid-19, banyak warga yang berdiam diri di rumah tanpa kegiatan. Eni mengajak ibu-ibu di RW-19 untuk bergabung menjalankan program-program pengolahan sampah. Saat ini terdapat 30 orang yang tergabung dalam kelompok Jasmine Intigrated Farming. 

"Kita membuat Kang Pisman agar ada kegiatan untuk ibu-ibu di sini. Akhirnya, kita ajak ibu-ibu untuk bergabung ke Kang Pisman dan kelompok berkebun ini. Selain edukasi tentang pengolahan sampah dan berkebun, ibu-ibu pun bisa sambil rekreasi," katanya. 

Metode yang digunakan untuk mengolah sampah di antaranya pengomposan sampah organik dengan Metode Open Windrow, Mikro Organisme Lokal (MOL) dan membudidayakan Maggot (Larva lalat hitam). 

Sekretaris Jasmine, Anindia, menjelaskan, pengolahan sampah dengan Metode Open Windrow nantinya menghasilkan pupuk kompos padat. Sedangkan metode MOL menghasilkan pupuk kompos cair. Kemudian Kompos digunakan untuk tanaman Buruan Sae. Sementara itu, sampah organik yang dikelola menggunakan metode maggot dapat terurai habis. 


Kini hasil dari Jasmine Intigrated Farming sudah bisa dirasakan warga. Ke depannya akan disosialisasikan lebih luas kepada warga agar mulai memilah sampah dari rumah.  "Kita ingin merangkul warga lebih banyak lagi untuk memilah sampah dari rumah. Rencananya akan memberikan reward kepada warga yang sudah memilah sampah dari rumah," ujar Anindia. (nang's)

Editor: Setiawan
    Bagikan:  


Berita Terkait