Catatan Sejarah 23 Februari: Mengenang Wafatnya KH. Ahmad Dahlan, Sang Pendiri Muhammadiyah

Pendidikan —Selasa, 23 Feb 2021 08:52
    Bagikan:  
Catatan Sejarah 23 Februari: Mengenang Wafatnya KH. Ahmad Dahlan, Sang Pendiri Muhammadiyah
KH Ahmad Dahlan, meninggal pada tanggal 23 Februari 1923,tepat hari ini 98 tahun yang lalau pada usia 54 tahun, di Yogyakarta (Foto: pinterest.com)

POSKOTA JABAR, BANDUNG

Ahmad Dahlan, merupakan pendiri Muhammadiyah, salah satu organisasi islam terbesar di Indonesia. Beliau juga merupakan seorang ulama dan salah satu tokoh pembaharu islam di Indonesia. Berkat perjuangan dan jasa-jasanya, Pemerintah Indonesia menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepadanya pada tahun 1961.

Ahmad Dahlan lahir di Yogyakarta, 1 Agustus 1868, nama kecil beliau adalah Muhammad Darwis. Ia merupakan anak keempat dari tujuh orang bersaudara yang keseluruhan saudaranya perempuan, kecuali adik bungsunya. Beliau ini termasuk keturunan kedua belas dari Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik).

KH Ahmad Dahlan, meninggal pada tanggal 23 Februari 1923,tepat hari ini 98 tahun yang lalau pada usia 54 tahun, di Yogyakarta. Kiprahnya dalam syiar Islam di Nusantara termasuk dalam perjalanannya membentuk dan mengembangkan Muhammadiyah sudah tidak usah diragukan lagi.

BACA JUGA: Satgas Covid-19 Kota Bandung Matangkan Aturan Penyegelan Tempat Usaha

Pada umur 15 tahun, KH. Ahmad Dahlan pergi menunaikan ibadah haji pertamanya dan tinggal di Mekah selama kurang lebih lima tahun untuk menuntut ilmu. Pada saat itu, Ahmad Dahlan mulai berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran pembaharu dalam Islam, seperti Muhammad Abduh, Al-Afghani, Rasyid Ridha dan Ibnu Taimiyah. Pada tahun 1888 beliau kembali ke tanah air, sepulang beliau dari Mekah itulah namanya berganti dari Muhammad Darwis menjadi Ahmad Dahlan. Pada tahun 1903, ia bertolak kembali ke Mekah untuk kembali menuntut ilmu di sana, dan menetap selama kurang lebih dua tahun.

Sepulang dari Mekkah, ia kemudian menikah dengan Siti Walidah, sepupunya sendiri, anak dari Kyai Penghulu Haji Fadhil, yang kelak dikenal dengan Nyai Ahmad Dahlan. Dari perkawinannya dengan Siti Walidah, KH Ahmad Dahlan dikaruniai enam orang anak yaitu: Djohanah, Siradj Dahlan, Siti Busyro, Irfan Dahlan, Siti Aisyah, dan Siti Zaharah.

Pada tahun 1909 Kyai Dahlan masuk menjadi bagian dari organisasi Boedi Oetomo – organisasi yang melahirkan banyak tokoh-tokoh nasionalis. Di sana beliau memberikan pelajaran-pelajaran untuk memenuhi keperluan anggota, dan mengajar pendidikan agama Islam di sekolah OSVIA Magelang, yang merupakan sekolah khusus Belanda dan anak-anak priayi.

BACA JUGA: Cafe dan Tempat Hiburan Menjadi Bidikan "Operasi Senyap" Satgas Covid-19 Kota Bandung

Para anggota Boedi Oetomo kala itu menyarankan agar ia membuka sekolah sendiri yang diatur dengan rapi dan didukung oleh organisasi yang bersifat permanen. Lalu kemudian beliau mendirikan Madrasah, yang dimana murid-muridnya didominasi oleh anak-anak yang kurang mampu secara ekonomi. Selain sekolah, anggota Boedi Oetomo pun menyarankan beliau agar mendirikan orginasasi.

Maka pada 18 November 1912 (8 Dzulhijjah 1330), beliau mendirikan Muhammadiyah. Untuk melaksanakan cita-cita pembaruan Islam di bumi Nusantara. Ahmad Dahlan ingin mengadakan suatu pembaruan dalam cara berpikir dan beramal menurut tuntunan agama Islam.

Dia ingin mengajak umat Islam Indonesia untuk kembali hidup menurut tuntunan Al-Qur'an dan Al-Hadits. Dan sejak awal Dahlan menegaskan bahwa Muhammadiyah itu bukan organisasi politik, tetapi lebih bersifat sosial dan bergerak di bidang pendidikan.

Tapi pada awal rencana atau gagasan pendirian Muhammadiyah ini tidak berjalan lancar, beliau mendapatkan resistensi, baik dari keluarga dan masyarakat sekitarnya. Berbagai fitnah, tuduhan dan hasutan datang bertubi-tubi kepadanya.

Tuduhan Sebagai Kyai palsu atau Kyai Kafir pun terlempar kepadanya, karena sudah bersinggungan langsung dengan bangsa Belanda yang nobenene beragama Kristen, mengajar di sekolah Belanda, serta bergaul dengan tokoh-tokoh Boedi Oetomo yang notabene dari golongan priyayi, dan bermacam-macam tuduhan lain.

BACA JUGA: Komunitas Memegang Peranan Penting Dalam Keberlangsungan Skena Musik Indie di Indonesia

Hal ini terjadi karena jauh sebelum mendirikan Muhammadiyah, Ahmad Dahlan memang telah memilih jalur yang tidak biasa dan cenderung berisiko menuai kontroversi. Pendidikan dan pelayanan sosial dijadikan ujung tombak utama untuk memperkenalkan serta menjalankan organisasinya itu.

Berkat pergaulannya yang luas dan menerima banyak pembelajaran dari para ulama Islam pembaharu, Ahmad Dahlan tidak merasa alergi terhadap apa dan siapapun. Ia menyambangi pihak-pihak yang barangkali oleh umat Islam pada saat itu dianggap sebagai kubu yang berseberangan dan dihindari sebisa mungkin.

Ahmad Dahlan dengan segenap kesadaran mengambil apa-apa yang dianggapnya baik dan bermanfaat, tanpa terlalu mempersoalkan asal-usul atau latar belakangnya. Salah satu contoh adalah didirikannya sekolah dengan konsep pendidikan kolonial atau gaya Barat, bukan seperti pondok pesantren kebanyakan yang berformat tradisional.

Kendati tetap berangkat dari konsep agama/Islam, sekolah yang dirintisnya di Kauman itu menerapkan metode Barat, bahkan hingga hal-hal teknis. Sekolah tersebut dikelola dengan sistem yang terorganisir, juga peralatan serta perabotan layaknya sekolah-sekolah milik pemerintah kolonial.

Hal itu lah yang menyebabkan Ahmad Dahlam kerap menuai kecaman dan ancaman dari pihak yang anti dengan kolonialisme. Bahkan ada pula orang yang hendak membunuhnya. Namun ia berteguh hati untuk melanjutkan cita-cita dan perjuangan pembaruan Islam di tanah air, hingga pada akhirnya beliau bisa mengatasi semua rintangan tersebut. Dan Muhammadiyah tetap berdiri hingga saat ini.  (ES)

BACA JUGA: Catatan Sejarah 23 Februari: Mengenang Wafatnya KH. Ahmad Dahlan, Sang Pendiri Muhammadiyah

Editor: Edi
    Bagikan:  


Berita Terkait