90 KK Mengungsi, Pergerakan Tanah Dilongsoran Cilawu Garut Masih Terjadi

Jawa Barat —Selasa, 23 Feb 2021 09:56
    Bagikan:  
90 KK Mengungsi, Pergerakan Tanah Dilongsoran Cilawu Garut Masih Terjadi
Para pengungsi menempati gedung sekolah dan madrasah. (foto:ist)
POSKOTAJABAR, GARUT.
Bencana tanah longsor yang terjadi di Desa Karyamekar, Kecamatan Cilawu, Kabupaten Garut, masih terus mengalami pergerakan hingga Senin Sore (220/2/2021), jumlah warga yang terdampak longsor semakin banyak dan warga yang mengungsi makin banyak.

Berdasarkan data terakhir dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Garut, jumlah warga yang mengungsi mencapai 90 kepala keluarga atau 308 jiwa berasal dari Kampung Cipager dan Kampung Babakan Kawung, Desa Karyamekar. 

"Para pengungsi itu dipusatkan di gedung sekolah dan madrasah setempat yang lokasinya aman dari longsor susulan,"
kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan, BPBD Kabupaten Garut, Tubagus Agus Sofyan.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut juga telah memperpanjang status tanggap darurat bencana di wilayah itu hingga tujuh hari ke depan. Selama masa tanggap darurat bencana, kebutuhan logistik untuk pengungsi dipastikan aman.

BACA JUGA : Anggaran SKPD Pemkot Sukabumi Kena Refocusing Penanganan Covid-19


Memakan Waktu Lama 

Menurut Tubagus Agus, hingga saat ini pihaknya masih menunggu kajian Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG). Sebab, hingga saat ini tim dari PVMBG masih belum datang melakukan kajian di Kecamatan Cilawu.

Dimungkinkan banyak kejadian pergerakan tanah yang terjadi di sejumlah wilayah jawa barat, jadi harus menunggu antrean karena harus dikaji oleh tim dari PVMBG.

Ia menyebutkan, penanganan pasca longsor di Desa Karyamekar pasti akan memakan waktu lama. Sebab, hingga saat ini pihak kecamatan belum menyiapkan tanah untuk relokasi warga jika nanti harus dipindahkan. 

Menurut dia, pihak kecamatan masih terus mencari tanah untuk relokasi warga terdampak longsor. "Kalau nanti sudah ada juga harus dikaji dulu oleh PVMBG kelayakannya untuk permukiman," kata dia.


BACA JUGA : Ribuan Pegawai Non ASN di Pemkab Pangandaran Dievaluasi


Menunggu Proses Relokasi 
Sementara untuk kebutuhan logistik pengungsi, Tubagus mengatakan, pihaknya hanya bisa memastikan selama masa tanggap darurat. Setelah masa tanggap darurat berakhir, akan ada masa transisi. 

Kata dia, pihaknya juga akan menyiapkan hunian sementara untuk warga terdampak dan hingga kini masih menunggu proses relokasi.

"Dalam hunian sementara ini ada tiga alternatif yang disiapkan, yaitu membuat huntara, menyewa tempat untuk menampung warga, atau tetap di tempat pengungsian," ucapnya 

Bahkan dari pihak BPBD Kabupaten Garut telah melakukan kajian bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) membuat zonasi di wilayah tersebut. Dari hasil kajian itu, ditetapkan tiga zonasi wilayah terdampak, yaitu zona merah yang berjarak 5 meter dari bibir longsoran, zona kuning yang berjarak 10 meter dari longsoran, dan zona hijau yang berjarak 15 meter dari longsoran," paparnya.(Kris)
BACA JUGA : 90 KK Mengungsi, Pergerakan Tanah Dilongsoran Cilawu Garut Masih Terjadi
Editor: Suherlan
    Bagikan:  


Berita Terkait