KH.As’ad Humam, Tokoh Revolusioner dalam Metode Baca Al-Qur’an

Pendidikan —Kamis, 25 Feb 2021 16:40
    Bagikan:  
KH.As’ad Humam, Tokoh Revolusioner dalam Metode Baca Al-Qur’an
KH As’ad Humam, beliau lah orangnya yang sukses menciptakan buku metode baca Al-Qur’an dengan sistem Iqro (Foto: aekbila.com)

POSKOTA JABAR, BANDUNG

Membaca al-Qur’an atau mengaji adalah salah satu ritual ibadah yang wajib dilakukan bagi umat muslim di seluruh dunia. Tak terkecuali Indonesia. Bukan sekedar membaca tulis saja, tapi juga harus memperhatikan kaidah dan tata caranya yang benar.

Salah satu metode dasar belajar mengaji yang sering digunakan di Indonesia adalah dengan menggunakan panduan buku iqro. Namun tahukah Anda siapa sebenarnya sosok orang dibalik munculnya buku iqro ini?.

KH As’ad Humam, beliau lah orangnya yang sukses menciptakan buku metode baca Al-Qur’an dengan sistem Iqro yang memudahkan kita untuk belajar membaca Al-Qur’an. Tak hanya berhasil menyelamatkan generasi masa depan umat islam, khususnya di Indonesia dari buta huruf Al-Qur’an, metode Iqro miliknya ternyata sudah tersebar ke berbagai penjuru negara muslim di dunia.

BACA JUGA: Ridwan Kamil Singgung Berita Netizen Indonesia Paling Tidak Sopan Se-Asia Tenggara

As’ad Humam berhasil mengembangkan kaidah dan tata cara yang benar membaca Al-Qur’an. Ia sukses menciptakan metode dasar untuk bisa membaca Al’Qur’an dengan sistem Iqro yang berhasil ditemukannya.

KH As'ad Humam dibesarkan dan berkembang dalam kesehajaan dan kecintaan terhadap ilmu. Tekad kuat untuk mengabdi kepada ilmu ia buktikan dengan belajar langsung kepada KH Dachlan Salim Zarkasyi. KH. As’ad Humam tidak lulus pendidikan formal, ia putus sekolah, terhenti di kelas dua Madrasah Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta.

K.H. As’ad Humam lahir di Yogyakarta tahun 1933. Pada saat usia 18 tahun, ia terjatuh dari pohon dan mengalami pengapuran tulang belakang. Lehernya tak bisa digerakkan dan ia mesti berjalan dengan bantuan tongkat.

BACA JUGA: Bagi Karyawan yang Pernah Dapat BLT Subsidi Upah, Tidak Bisa Daftar Prakerja Gelombang 12

Pengapuran tulang belakang ini membuatnya tak bisa bergerak leluasa sepanjang hidupnya. Kecelakaan inilah yang membuatnya tak bisa menyelesaikan sekolah, ia hanya sampai kelas dua Mualimin Muhammadiyah.

Lalu ia dipertemukan dengan K.H. Dachlan Salim Zarkasyi asal Semarang yang menemukan metode Qiroati, sebuah metode belajar membaca Alquran. Ia pun kemudian turut mengajarkan metode Qiroati tesebut kepada anak-anak. Dalam perjalanannya, K.H. As’ad Humam menganalisis metode Qiroati dan menemukan solusi untuk meningkatkan pencapaian dari metode tersebut.

Kemudian penemuannya yang ia pikir bisa menyempurnakan metode Qiroati itu ia sampaikan kepada K.H. Dachlan Salim Zarkasyi, tapi kurang ditanggapi. Karena menurut K.H. Dachlan Salim Zarkasyi, metode Qiroati ini adalah metode belajar yang sudah baku dan tidak bisa dicampuri oleh metode lain.

Hal ini kemudian sempat menimbulkan ketegangan di antara kedua penemu metode membaca Al-qur’an tersebut. Namun, lambat laun ketegangan itu akhirnya mencapai jalan tengah. K.H. As’ad Humam dalam kata pengantar buku Iqro tahun 1990 menulis, “Buku Qiroati-lah yang paling banyak memberikan inspirasi dalam penyusunan buku Iqro ini”.

BACA JUGA: Dispora Kota Bandung Pastikan Stadion GBLA Siap Jadi Venue Piala Menpora 2021

Pada saat itu cara yang populer dipakai sebagai metode belajar membaca Al-qur’an di Indonesia adalah Qowaid Al-Baghdadiyah, yaitu dengan cara dieja. Cara belajarnya amat rumit, karena untuk menghasilkan bunyi “a” misalnya, yang belajar mesti memulai dengan huruf alif yang bersandang atau harakat fatah, baru bisa dibaca “a”.

Pada waktu itu, di setiap masjid atau surau, sering terdengar anak-anak tengah mengeja dengan bunyi, “alif fatah a, alif kasrah i, alif dhamah u, a-i-u”. Bunyi ini tentu terus berubah sesuai dengan huruf yang tengah dieja, dirangkai, lalu dibaca. Cara seperti ini membuat membaca huruf hijaiyah atau huruf Arab secara keseluruhan untuk merangkainya dalam ayat Al-qur’an butuh waktu yang cukup lama.

Lain dengan metode tersebut, Iqro yang terdiri dari enam jilid ini tidak lagi dieja, melainkan menyajikan cara baca dengan sistem (suku) kata. Mula-mula dipilih kata-kata yang akrab dan mudah bagi anak-anak, seperti “a-ba”, “ta-ta”, “ba-ja”, dan sebagainya. Setelah itu dilanjutkan dengan kata yang lebih panjang, kemudian kalimat pendek, lalu mempelajari kata yang ada di dalam surat-surat pendek. Semuanya disajikan dengan sederhana sehingga lebih memudahkan proses belajar membaca, terutama untuk anak-anak.

Mula-mula metode pembelajaran Iqro ini diujicobakan kepada anak-anak yang diasuh oleh tim tadarus Angkatan Muda Masjid dan Musala (AMM), Yogyakarta. Lalu pad medio tahun 1988, di tempat tinggalnya di Kampung Selokraman, Kotagede, didirikan Taman Kanak-kanak Alquran (TKA) untuk anak usia 4-6 tahun, dan setahun kemudian didirikan Taman Pendidikan Alquran (TPA) untuk anak usia 7-12 tahun. Dari sini awal mula Iqro disebarkan secara intens. Hingga kemudian menyebar dengan cepat dan banyak digunakan di banyak tempat.

BACA JUGA: Sering Minum Air Es?, Wapadai 5 Dampaknya yang Bisa Mengancam Kesehatan

Oleh karena keberhasilan Iqro dalam membantu anak-anak belajar membaca Al-qur’an membuat K.H. Munawir Sjadzali, menteri agama saat itu, menjadikan TKA dan TPA yang didirikan oleh K.H. As’ad Humam ini sebagai Balai Penelitian dan Pengembangan Lembaga Pengajaran Tartil Quran Nasional.

Hingga kini, entah telah berapa juta buku Iqro yang dicetak dan disebarluaskan ke berbagai penjuru tanah air dan negara-negara lain, seperti Malaysia, Singapura, Brunei, Thailand, Filipina, Eropa, dan Amerika. Ketika Iqro terus menyebar ke berbagai tempat dan memberi manfaat kepada banyak orang, kesehatan K.H. As’ad Humam justru semakin menurun.

Ia yang puluhan tahun menderita pengapuran tulang belakang dan perlahan menuju lumpuh ini, sejatinya tak pernah lelah berusaha melawan segala keterbatasannya itu. Sampai akhirnya, pada Jumat, 2 Februari 1996, K.H As’ad Humam meninggal dunia, pada usia 63 tahun. (ES)

BACA JUGA: KH.As’ad Humam, Tokoh Revolusioner dalam Metode Baca Al-Qur’an

Editor: Edi
    Bagikan:  


Berita Terkait