Catatan Sejarah 27 Februari: Wafatnya Sayuti Melik, Sang Pengetik Teks Proklamasi

Pendidikan —Sabtu, 27 Feb 2021 06:13
    Bagikan:  
Catatan Sejarah 27 Februari: Wafatnya Sayuti Melik, Sang Pengetik Teks Proklamasi
Sejarah mencatat bahwa Sayuti Melik adalah orang yang mengetik naskah teks proklamasi yang dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945 (Foto: biografiku.com)

POSKOTA JABAR, BANDUNG

Mohamad Ibnu Sayuti atau yang lebih dikenal sebagai Sayuti Melik adalah salah satu pahlawan nasional Indonesia yang namanya tidak akan luput dalam catatan sejarah kemerdekaan Republik Indonesia.

Sejarah kita mencatat bahwa Sayuti Melik adalah orang yang mengetik naskah teks proklamasi yang akan dibacakan pada tanggal 17 Agustus 1945. Sayuti Melik dikenal juga sebagai seorang wartawan serta politisi.

Sayuti lahir di Sleman Yogyakarta pada tanggal 22 November 1908. Ia merupakan anak dari pasangan Partoprawito dan Sumilah. Sang ayah merupakan seorang kepala desa yang berada di Kabupaten Sleman.

BACA JUGA: Lokasi Mobil SIM Keliling Polresta Bandung, Sabtu, 27 Februari 2021

Semangat nasionalisme tumbuh dalam diri Sayuti Melik saat ia belajar di sekolah guru yang berada di Solo pada tahun 1920. Sejarah perjuangan Sayuti Melik dimulai dengan semangatnya yang tinggi menentang Para penjajah. Ia kemudian rajin menulis, dan oleh karena tulisannya pula kemudian membuat ia pernah ditahan oleh pemerintah Belanda.

Selain oleh karena karya-karya tulisanya, Ia pun sempat ditahan beberapa kali oleh Belanda karena dianggap membantu PKI. Selain, keluar masuk penjara, Ia juga pernah diasingkan ke luar daerah seperti Boven Digul di Papua. Walaupun berkali-kali dipenjara, seakan tak pernah gentar,  Sayuti Melik malah makin kritis terhadap pemerintah Hindia Belanda.

Di tahun 1938 Sayuti Melik kemudian menikah dengan wanita pujaannya yang bernama SK Trimurti. Dari pernikahannya tersebut Sayuti Melik memiliki dua orang anak bernama Moesafir Karma Boediman dan Heru Baskoro. Bersama dengan istrinya kemudian Sayuti Melik mendirikan Koran Pesat. Namun karena tulisan-tulisannya yang selalu mengkritik pemerintah Hindia Belanda, hal itu pun lagi-lagi membuat Sayuti Melik dan istrinya beberapa kali ditahan yang dipenjara.

BACA JUGA: Gaji Wakil Bupati Pangandaran akan Disedekahkan Kepada Warga Miskin, Penuhi Janji Kampanye

Saat Jepang berkuasa di Indonesia, koran milik Sayuti Melik dan istrinya pun dibredel. Ia dan istrinya kemudian ditangkap oleh tentara Jepang. Menjelang kemerdekaan Indonesia, Sayuti Melik kemudian menjadi salah satu anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI).

Ketika Jepang kalah dalam perang dunia II pada tanggal 16 Agustus 1945, Berita kekalahannya kemudian terdengar ke Indonesia. Sayuti Melik yang masuk dalam kaum muda bersama dengan Chairul Saleh, Sukarni, Wikana serta para pemuda lainnya Kemudian mendesak Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta agar segera memproklamirkan kemerdekaan Indonesia.

Sayuti Melik bersama para pemuda lainnya kemudian “menculik” Ir. Soekarno dan Muhammad Hatta pada tanggal 16 agustus 1945 dan membawanya ke Rengasdengklok dimana peristiwa ini kemudian dikenal dengan nama peristiwa Rengasdengklok.

Soekarno dan Muhammad Hatta beserta para tokoh muda lainnya pun kemudian merumuskan penyusunan naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, di rumah Laksamana Maeda. Setelah teks proklamasi selesai disusun, Terjadi perdebatan antara Siapa yang berhak dalam menandatangani naskah teks proklamasi tersebut.

Dan Sayuti Melik pun kemudian mengusulkan agar Soekarno dan Muhammad Hatta lah yang menandatangani teks proklamasi tersebut. Dan usulan tersebut kemudian diterima. Naskah teks proklamasi yang masih ditulis tangan tersebut, kemudian diketik oleh Sayuti Melik. Ia kemudian mengubah kalimat dalam teks proklamasi yang semula ‘Wakil-wakil bangsa Indonesia’ menjadi ‘Atas nama bangsa Indonesia’.

BACA JUGA: Satpam, Petugas Keamanan Partikelir yang Lahir dari Tangan Seorang Jenderal Polisi

Setelah kemerdekaan Indonesia resmi diproklamirkan pada tanggal 17 Agustus 1945, Sayuti Melik kemudian masuk dalam Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP). Dan pada tahun 1946, Sayuti Melik kemudian ditangkap oleh pemerintah Indonesia atas tuduhan terlibat dan bersekongkol dalam peristiwa 3 Juli 1946. Penangkapan ini atas perintah Mr. Amir Syarifuddin.

Peristiwa peristiwa 3 Juli 1946 merupakan peristiwa percobaan kudeta oleh kelompok oposisi yang bernama kelompok Persatuan Perjuangan terhadap pemerintahan Indonesia yang kala itu dipimpin oleh Perdana Menteri Sutan Sjahrir dalam kabinet Syahrir II.

Namun Sayuti Melik kemudian dibebaskan setelah dinyatakan tidak bersalah oleh Mahkamah Tentara. Sayuti Melik kemudian ditangkap oleh Belanda ketika terjadi Agresi Militer Belanda II. Dia kemudian dipenjara di wilayah Ambarawa. Setelah Konferensi Meja Bundar tahun 1950 disepakati antara Indonesia dan Belanda, Sayuti Melik kemudian dibebaskan.

Pada masa pemerintahan Orde baru, Sayuti bergabung dengan Golkar dengan menjadi anggota MPR/DPR tahun 1971 dan 1977. Sayuti pun pernah menerima Bintang Mahaputra Tingkat V pada 1961 dari Presiden Soekarno dan Bintang Mahaputra Adipradana II dari Presiden Soeharto 1973. Sayuti Melik juga memperoleh penghargaan bintang Mahaputra Adipradana II Dari Presiden Soeharto pada tahun 1973.

Sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah kemerdekaan Republik Indonesia, tak berlebihan rasanya jika Sayuti Melik banyak memperoleh penghargaan dari pemerintah Indonesia. Dan Indonesia kala itu harus kehilangan salah satu pahlawannya. Sayuti Melik meninggal dunia pada tanggal 27 Februari 1989. Tepat hari ini 32 tahun yang lalu. Ia kemudian dimakamkan di taman pemakaman pahlawan Kalibata Jakarta. (ES)

BACA JUGA: Catatan Sejarah 27 Februari: Wafatnya Sayuti Melik, Sang Pengetik Teks Proklamasi


Editor: Edi
    Bagikan:  


Berita Terkait