Hikayat Cinta Asep Sunandar Sunarya, Sang Pejuang Budaya dan Seni Sunda

Opini —Sabtu, 27 Feb 2021 08:30
    Bagikan:  
Hikayat Cinta Asep Sunandar Sunarya, Sang Pejuang Budaya dan Seni Sunda
(Foto: Pinterest.com)

POSKOTA JABAR, BANDUNG

Siapa yang tak kenal dengan sosok yang melegenda Asep Sunandar Sunarya. Beliau adalah maestro dalang wayang golek yang eksistensinya sudah diakui dunia. Dalang kondang yang lahir di Desa Jelekong, Baleendah, Bandung ini merupakan anak ke-7 dari 13 bersaudara.

Darah seni yang mengalir padanya, tak lain berasal dari sang ayah yang juga dikenal sebagai seorang dalang handal dan tersohor pada masanya, yaitu Abah Sunarya. Abah Asep, orang-orang biasa memanggilnya, adalah sosok yang terkenal berkat kontribusinya yang tanpa lelah di dunia seni sunda, khusunya wayang golek.

Namun siapa sangka, di balik popularitasnya, Abah Asep Sunandar Sunarya memiliki kisah hidup berliku dan penuh perjuangan. Pada saat dilahirkan, Abah Asep tidak diberi nama oleh kedua orang tuanya.

BACA JUGA: Menu Sarapan Simple, Roti Goreng Madu Makanan Enak, Sehat Gurih dan Renyah

Hal ini terjadi karena sang Ibunda sebelumnya pernah bermimpi dimana beliau seperti mendapat pesan kalau dia akan melahirkan anak ke-7, maka anak tersebut tidak boleh diberi nama. Dan ternyata bayi ke Tujuh itu adalah Abah Asep Sunandar Sunarya.

Cerita pemberian nama Abah Asep berawal ketika beliau diberikan kepada Bibinya yang kebetulan belum memiliki momongan. Sehingga beliau dibesarkan oleh sang Bibi. Kala itu sang bibi bingung harus memanggilnya apa, sehingga muncul lah ide untuk memanggilnya dengan sebutan Sukana, sedangkan nama Asep merupakan panggilan masyarakat Sunda untuk anak laki-laki.

Maka sejak saat itu Bayi tanpa nama itu kemudian dipanggil Asep Sukana. Setelah Abah Asep berusia 16 tahun, barulah Ia diberi tahu siapa sebenarnya orang tua kandungnya yang sebenarnya. Kala itu Bibi yang mengasuh dan membesarkan Sukana mengantarnya dan menjelaskan sejarah kelahiran Sukana kepada orang tua aslinya yaitu Ibu Tjutjun Jubaedah (biasa dipanggil Abu Tjutjun), dan Abeng Sunarya (biasa dipanggil Abah Sunarya).

BACA JUGA: Sepenggal Kisah Tentang Darso, Si Raja Pop Sunda yang Lagunya Kerap Mewarnai Kisah Asmara Kita

Dan semenjak itu, Sukana yang mulai menggemari dunia wayang sering belajar ilmu pewayangan dan pedalangan kepada sang Ayah, Abah Sunarya yang juga merupakan dalang wayang golek tersohor kala itu. Hingga suatu ketika, Sang ayah mengganti nama Sukana menjadi Sunandar, sehingga sampai sekarang nama beliau dikenal sebagai Asep Sunandar Sunarya.

Sepanjang karirnya sebagai dalang, telah banyak sekali prestasi yang telah diraih oleh Abah Asep. Diantaranya pada 1978, Ia berhasil menjadi juara Dalang Pinilih I tingkat Jawa Barat pada Binojakrama padalangan di Bandung. Kemudian tahun 1982, ia terpilih kembali sebagai juara pinilih I di Bandung.

Dari rentang waktu tahun 1982 hingga 1985, Abah Asep menjalin kontrak rekaman dengan SP Record dan Wisnu Record. Kemudian pada tahun 1985, ia dinobatkan sebagai Dalang Juara umum tingkat Jawa Barat pada Binojakrama Padalangan di Subang dan berhak memboyong Bokor Kencana sebagai lambang supremasi padalangan Sunda Jawa Barat.

Pada medio tahun 1986, Abah Asep Sunandar Sunarya mendapat mandat dari pemerintah sebagai duta kesenian, untuk terbang ke Amerika Serikat. Masih pada tahun yang sama, Dian Record mulai merekam karya-karyanya dalam bentuk kaset pita.

Lalu, pada tahun 1993, Ia diminta oleh Institut International De La Marionnette di Charleville, Prancis sebagai dosen luar biasa selama lebih kurang 3 bulan dan ia diberi gelar profesor oleh masyarakat akademis Prancis.

BACA JUGA: Mengenang Kang Ibing, Seniman Multitalenta yang Sosoknya Melegenda di Tatar Sunda

Kemudian tahun 1994, Abah Asep Sunandar Sunarya memulai pentas di luar negeri seperti Inggris, Belanda, Swiss, Prancis, dan Belgia. Setahun berselang, ia mendapat penghargaan bintang Satya Lencana Kebudayaan.

Terhitung hingga saat ini, tidak kurang dari 100 album rekaman (termasuk bobodoran) yang sudah dihasilkan oleh Abah Asep Sunandar Sunarya. Bahkan Ia juga pernah dipercaya salah satu stasiun televisi nasional untuk memandu sebuah program yang bertajuk ‘Asep Show’.

Melihat semua sepak terjangnya di dunia seni khususnya seni dan tradisi sunda ini, nampaknya tak berlebihan jika Abah Asep kita sebut sebagi pejuang budaya. Pasalnya, Abah Asep bukan sekedar hanya menjaga dan melestarikan budaya sunda yang berwujud wayang golek, namun juga mengenalkan dan mengembangkan kesenian wayang golek ke dunia internasional.

Abah Asep Sunandar Sunarya memang seorang pemerhati dan pelaku budaya yang patut diberikan apresiasi dengan segenap rentetan prestasi serta upaya dirinya dalam usaha melestarikan, menjaga, mengenalkan, dan memperjuangkan kebudayaan sunda khususnya wayang golek ke seantero Indonesia dan dunia internasional.

Meski kini Abah Asep kini telah tiada, namun perjuangannya tetap akan selalu dikenang pada hari ini bahkan hingga nanti. Terlebih perjuangan beliau sudah diteruskan oleh keturunannya yang juga ada yang menjadi Dalang, salah satu yang kini tersohor adalah Ki Dalang Dadan Sunandar Sunarya. (ES)

BACA JUGA: Hikayat Cinta Asep Sunandar Sunarya, Sang Pejuang Budaya dan Seni Sunda

Editor: Edi
    Bagikan:  


Berita Terkait