Perjalanan Peci di Indonesia, Hingga Kemudian Menjadi Simbol Identitas Nasional

Pendidikan —Sabtu, 27 Feb 2021 17:39
    Bagikan:  
Perjalanan Peci di Indonesia, Hingga Kemudian Menjadi Simbol Identitas Nasional
(Foto: Pinterest.com)

POSKOTA JABAR, BANDUNG

Jika bicara tentang sejarah peci, sebagian orang akan mengacu pada Fez, sebuah tutup kepala yang digunakan kaum nasionalis Turki atau petje dari bahasa Belanda, artinya topi kecil. Sementara nama kopiah, orang Islam Indonesia mengacu pada keffiehkaffiyeh atau kufiya dari bahasa Arab yang artinya, tutup kepala juga, tetapi bentuknya tak seperti peci atau songkok. 

Peci atau kopiah barangkali agak dekat dengan kepi dalam bahasa Perancis. Bentuk kepi yang biasa dipakai militer Perancis sepintas agak mirip dengan kopiah yang kita kenal di Indonesia. Bedanya lebih bulat dan ada semacam kanopi di bagian depannya yang mirip dengan topi.

Sementara, istilah songkok, mengacu dari bahasa melayu dan Bugis. Di beberapa daerah di Indonesia dengan pengaruh Melayu dan Bugis, menyebut peci sebagai Songkok. Demikian pula di Malaysia dan Brunei.

BACA JUGA: Tiap Bulan Gajian Cuma Numpang Lewat?, Lakukan Tips Berikut Ini untuk Mengatasinya

Sebelum ada peci, laki-laki di Indonesia terbiasa menutup kepala dengan ikat kepala. Tanpa tutup kepala, seorang laki-laki dianggap tak jauh beda dengan orang telanjang. Tutup kepala adalah bagian dari kesopanan. 

Menurut Rozan Yunos, dalam artikelnya The Origin of the Songkok or Kopiah di The Brunei Times (23/09/2007), peci diperkenalkan oleh pedagang-pedagang Arab yang menyebarkan agama Islam. Rozan juga menyebut beberapa ahli berpendapat di Kepulauan Malaya peci atau kopiah ini sudah dipakai pada abad XIII. Setelah dipopulerkan para pedagang Arab itu, baru orang Malaysia, Indonesia dan Brunei mengikutinya.

Peci pun mulai ramai dipakai di Indonesia setelah kain lebih mudah diperoleh. Pemakainya tak selalu berbaju resmi. Ada yang menggunakan peci meski bercelana pendek. Penggunanya pun bukan hanya dari kalangan berada, tetapi juga rakyat jelata. 

BACA JUGA: Aldebaran Tahu Reyna Anak Kandung Nino Hingga Takut Nino Merebutnya, Ikatan Cinta Malam Ini

Peci, biasanya terbuat dari kain beludru yang diberi rangka plastik padat agar tegak. Di Tanah Bugis, Peci tradisional mereka, terbuat dari pelepah daun lontar yang dipukul-pukul hingga menjadi serat, lalu dianyam. Peci ini disebut Songkok Recca. Ukurannya berbeda dengan peci yang dipakai secara nasional dalam forum resmi masa kini.

Semua Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia (kecuali Megawati), punya foto resmi dengan kepala tertutup oleh peci. Tampilan mereka yang gagah dengan jas dan peci terpampang baik di dinding-dinding sekolah atau di setiap kantor-kantor pemerintahan.

Namun, tidak hanya para pemimpin negeri ini yang mengenakan peci. Mereka yang ingin menjadi calon kepala daerah, calon anggota dewan pun kebanyakan berkampanye dengan menampilkan fotonya yang gagah mengenakan peci.

Tak peduli apapun agamanya, foto kampanye baru terasa sah jika mengenakan peci. Terasa lebih berwibawa, gagah, sekaligus nasionalis. Kombinasi maut yang diharapkan bisa menggaet suara untuk memenangkan pemilu.

Dalam acara resmi kenegaraan, presiden juga biasanya mengenakan peci. Acara pelantikan pejabat, Upacara 17 Agustus, tidak sah jika pejabat yang menghadiri tidak mengenakan peci. Peci memang kini telah menjadi sebuah identitas bangsa.

BACA JUGA: Pertamina Mandalika SAG Racing Team Luncurkan Livery Moto2 2021

Atas alasan itulah Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil pada saat menjabat walikota Bandung pada 2014 silam mewajibkan mewajibkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) di lingkungan Pemerintah Kota Bandung mengenakan peci setiap hari Jumat. 

"Bung Karno menyatakan peci adalah identitas lelaki Indonesia, terlebih menggunakan kopiah bisa tambah ganteng," kata Ridwan Kamil.

Di Negara kita peci selalu diidentikan dengan Islam. Banyak tokoh Islam berfoto dalam keadaan berpeci. Jamaah-jamaah tokoh Islam pun juga pakai peci. Sejak abad XVIII peci sudah diperkenalkan kepada orang Islam di Indonesia. Baru pada awal abad XX orang Islam di Indonesia beramai-ramai pakai peci. Dalam perjalanannya, peci dianggap sebagai identitas orang Islam. 

Padahal peci kecil dipakai juga oleh rabi-rabi pemuka agama Yahudi dan juga pemuka agama Katolik. Peci agak besar seperti fez Turki dipakai juga oleh orang-orang Kristen ortodok di sekitar Timur Tengah. Bahkan jilbab juga dipakai wanita-wanita kristen ortodok di sana. 

Di Kampung Sawah, di mana orang-orang berkebudayaan Betawi beragama Kristen hidup, memakai peci bagi kaum laki-laki dan kerudung bagi perempuan adalah hal biasa. Perayaan Natal mereka kadang diisi dengan ondel-ondel juga. Mereka berusaha menunjukan Agama Kristen tidak membunuh budaya lokal.

BACA JUGA: Akibat Pandemi Covid-19, Sentra Batik Trusmi Kabupaten Cirebon Semakin Redup

Peci Simbol Pergerakan

Presiden pertama dan tokoh ploklamator Indonesia, Ir. Sukarno memiliki kisah tersendiri bahwa mengenakan peci sebagai lambang pergerakan. Seperti yang dituturkan Cindy Adams dalam buku ‘Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia’.

Pada masa itu, biasanya kaum cendekiawan pro-pergerakan nasional enggan menggunakan blankon (penutup kepala khas Jawa). Ada sejarah politik tersendiri di dalam sebuah tutup kepala ini. Pasalnya di sekolah “dokter pribumi” STOVIA pemerintah kolonial Belanda mempunyai aturan bahwa siswa pribumi tidak boleh menggunakan baju eropa, maka para siswa mengenakan blangkon dan batik apabila berasal dari Jawa.

Namun, bagi siswa asal manado ataupun Maluku yang memeluk agama Kristen boleh menggunakan pakaian eropa. Dari sejarah ini, muncullah pengkotak-kotakan orang berdasarkan pakaian yang dikenakannya, dimana pemerintah nampaknya ada usaha membagi-bagi penduduk mengenai etnis dan agama. Maka banyak aktivis yang menolak memakai blankon.

Kemudian pada bulan Juni tahun 1921, Bung Karno menemukan solusi, dengan mengenakan peci. Awal mulanya ada pertemuan di Kota Surabaya dan ia datang mengenakan peci. Namun, beliau sebenarnya takun ditertawakan. Tapi, beliau berkata pada diri sendiri bahwa jika mau jadi pemimpin, haruslah berani memulai sesuatu yang baru.

Ketika menjelang rapat, hari itu mulai sedikit gelap Ia awalnya ragu. Kemudian ia berkata kepada diri sendiri “Ayo maju, pakailah pecimu. Tarik nafas yang dalam dan masuk sekarang. Setelah masuk, semua mata memandang heran padanya tanpa kata-kata.

Kemudian untuk mengatasi suasana yang mendadak dingin itu, Sukarno berkata “Kita memerlukan suatu lambang daripada kepribadian Indonesia, Peci. Dipakai oleh pekerja-pekerja dari bangsa melayu dan itu asli kepunyaan rakyat kita”. Beliau juga menjelaskan bahwa peci berasal dari kata pet yang berarti topi dan je yang berarti sifat kecil. Oleh karena itu, baik dari segi sejarah penggunaannya dan dari segi penyebutan namanya, peci mencerminkan Indonesia : satu bangunan inter-kultur. Jadi, dari manapun asalnya, agama apapun yang dianutnya, kaum pergerakan memakai peci. (ES)

BACA JUGA: Perjalanan Peci di Indonesia, Hingga Kemudian Menjadi Simbol Identitas Nasional

Editor: Edi
    Bagikan:  


Berita Terkait