Meneladani Kesederhanaan, Kejujuran dan Ketegasan dari Sosok Artidjo Alkostar

Nasional —Minggu, 28 Feb 2021 17:33
    Bagikan:  
Meneladani Kesederhanaan, Kejujuran dan Ketegasan dari Sosok Artidjo Alkostar
(Foto: twitter @artidjoalkostar)

POSKOTA JABAR, JAKARTA

Artidjo Alkostar, Anggota Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (Dewas KPK) telah berpulang siang hari tadi. Semasa hidupnya mantan Hakim Agung itu dikenal sebagai sosok yang bersih dan tegas terhadap koruptor.

Kepergiannya tentu meninggalkan duka mendalam bagi kita semua. Sosok Artidjo layak diteladani. Sepak terjangnya begitu ditakuti oleh penjahat kerah putih di negeri ini. Berbagai upaya suap untuk mempengaruhi putusannya sama sekali tidak mempan padanya.

Artidjo pernah dilobi pihak berpekara saat masih aktif di Mahkamah Agung (MA). Dengan tegas Artidjo mengusir si pemberi suap. Dia juga menolak mentah-mentah pemberian cek kosong yang bebas diisi nominalnya.

BACA JUGA: Artidjo Alkostar Hakim “Killer” Musuh Para Koruptor Meninggal Dunia

Selain kisah kejujuran dan ketegasannya, ada juga cerita menarik tentangnya, yakni kisah kesederhanaan Artidjo. Saat awal menjadi Hakim Agung, Artidjo bahkan sering naik bajaj atau taksi untuk menuju kantornya. Hal itu karena pada awal kariernya, hakim agung belum mendapatkan kendaraan dinas.

Bahkan, karena belum juga mendapat fasilitas rumah dinas dari MA, Artidjo pun sempat mengontrak sebuah rumah di perkampungan di Kramat Kwitang, Jakarta Pusat, di belakang deretan bengkel las.

Kesederhanaan dan kejujuran telah menempa Artidjo. Berangkat dari kesederhanaan dan kejujuran itu kini Artidjo menjadi Hakim Agung yang tanpa ampun menghukum koruptor. Vonis ringan yang dijatuhkan hakim di bawahnya dia rombak dan tetap dengan argumen hukum yang kuat.

BACA JUGA: Era Mobil Listrik Sudah Datang, Bos Suzuki Pamit Pergi untuk Undur Diri

Artidjo meninggal dunia karena menderita penyakit jantung dan paru-paru. "Ya, beliau meninggal dunia karena penyakit jantung dan paru-paru," tutur Menko Polhukam Mahfud, Minggu (28/2).

Sebelum menjadi hakim agung, Artidjo aktif sebagai dosen tetap Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dan advokat. Sebagai seorang advokat, Artidjo pernah menangani beberapa kasus penting, di antaranya Anggota Tim Pembela Insiden Santa Cruz di Dili (Timor Timur 1992), dan Ketua Tim Pembela gugatan terhadap Kapolri dalam kasus Pelarungan Darah Udin (wartawan Bernas Fuad M Syafruddin).

Alumnus FH UII angkatan 1976 ini juga pernah menjadi Direktur LBH Yogyakarta pada 1983-1989. Artidjo juga pernah menempuh pendidikan untuk lawyer mengenai Hak Asasi Manusia di Columbia University selama enam bulan. Artidjo juga bekerja di Human Right Watch divisi Asia di New York selama dua tahun.

Pulang dari Negeri Paman Sam, Artidjo lalu mendirikan kantor pengacara yang dia namakan Artidjo Alkostar and Associates. Namun pada tahun 2000, pria berdarah Madura ini harus menutup kantor hukumnya karena terpilih sebagai hakim agung.

Artidjo hingga saat ini masih mengajar di kampus almamaternya. Artidjo mengajar setiap Sabtu, dari pagi hingga malam hari. Mantan aktivis HMI ini mengajar hukum acara pidana dan etika profesi serta mengajar mata kuliah HAM untuk S2. (ES)

BACA JUGA: Meneladani Kesederhanaan, Kejujuran dan Ketegasan dari Sosok Artidjo Alkostar

 

Editor: Edi
    Bagikan:  


Berita Terkait